AS dan Iran Saling Serang di Konferensi Nuklir PBB, Rusia Langsung Bela Teheran
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung selama sebulan ini diprediksi akan diwarnai oleh perdebatan sengit di antara negara-negara peserta.
Dalam pembukaan konferensi peninjauan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin (27/4/2026), ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencuat, terutama terkait program nuklir Teheran. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung selama sebulan ini diprediksi akan diwarnai oleh perdebatan sengit di antara negara-negara peserta.
Salah satu faktor yang memicu ketegangan adalah pemilihan Iran sebagai salah satu wakil presiden konferensi, yang mendapat kritik keras dari Washington. AS menilai bahwa langkah tersebut merusak kredibilitas forum internasional yang bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.
Christopher Yeaw, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk pengendalian senjata dan nonproliferasi, menyatakan bahwa Iran telah menunjukkan "penghinaan" terhadap komitmennya dalam perjanjian tersebut.
"Ini sangat memalukan dan merusak kredibilitas konferensi," ujarnya, seperti dikutip dari laman Japan Today Selasa (28/4).
Amerika Serikat mendapatkan dukungan dari beberapa negara, termasuk Australia dan Uni Emirat Arab. Selain itu, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman, yang sebelumnya terlibat dalam kesepakatan nuklir Iran 2015, juga mengungkapkan keprihatinan mereka.
Di sisi lain, Iran menolak semua tuduhan tersebut. Duta Besar Iran untuk PBB di Wina, Reza Najafi, menganggap kritik dari AS sebagai tidak berdasar dan bermotif politik.
Najafi menuding Washington melanggar komitmen nonproliferasi dan menghambat upaya untuk membentuk kawasan Timur Tengah yang bebas dari senjata nuklir. Ketegangan semakin meningkat di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran dan pihak-pihak yang didukung oleh AS.
Menjelang konferensi, Iran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat penghentian blokade maritim oleh AS dan diakhirinya perang. Namun, Iran juga mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda, yang ditolak oleh Washington.
Iran sendiri merupakan anggota NPT yang diwajibkan untuk bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tetapi hingga saat ini Teheran belum memberikan akses penuh kepada inspektur IAEA ke beberapa fasilitas nuklir yang sebelumnya menjadi sasaran serangan.
Rusia Bela Iran
Rusia mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap kritik yang ditujukan kepada Iran. Duta Besar Rusia, Andrey Belousov, berpendapat bahwa politisasi isu sejak awal konferensi dapat mengganggu hasil pertemuan.
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Moskow untuk memperkuat koordinasi di tengah tekanan internasional yang dihadapi Teheran.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam pidato pembukaannya, memberikan peringatan terkait meningkatnya ancaman nuklir di tingkat global. Ia mencatat bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, jumlah hulu ledak nuklir kembali mengalami peningkatan, sementara komitmen untuk perlucutan senjata belum sepenuhnya dipenuhi.
Guterres mendesak semua negara untuk memperbarui komitmen mereka terhadap nonproliferasi dan memastikan bahwa kendali manusia tetap ada atas penggunaan senjata nuklir, terutama dengan adanya perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan.
Konferensi peninjauan NPT, yang diselenggarakan setiap lima tahun sejak perjanjian tersebut mulai berlaku pada tahun 1970, merupakan forum penting untuk mengevaluasi upaya global dalam mencegah penyebaran senjata nuklir. Namun, perbedaan yang mencolok antara negara-negara besar diperkirakan akan menyulitkan tercapainya kesepakatan bersama pada akhir pertemuan ini.