Gara-Gara Dukung Iran, 69 Warga Negara Bahrain Dicabut Kewarganegaraannya karena Dianggap Merugikan Negara
Di Bahrain, hukum mengizinkan pencabutan kewarganegaraan bagi individu yang dianggap mengancam keamanan nasional atau melakukan tindakan yang merugikan negara.
Pemerintah Bahrain mencabut kewarganegaraan dari 69 individu yang dituduh memiliki hubungan dengan Iran serta mendukung serangan terhadap negara tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan pada Senin (27/4/2026) bahwa pencabutan kewarganegaraan ini ditujukan kepada sejumlah orang yang dianggap "bersekongkol dengan entitas asing" dan menunjukkan dukungan terhadap Iran.
Beberapa dari individu tersebut dilaporkan memiliki hubungan keluarga satu sama lain, yang menambah kompleksitas situasi ini.
Keputusan ini dikeluarkan berdasarkan arahan dari Raja Hamad bin Isa Al Khalifa. Dalam pernyataan resmi, pihak kementerian menyatakan bahwa individu-individu yang dicabut kewarganegaraannya dianggap telah merugikan kepentingan negara dan tidak menunjukkan loyalitas, sehingga tidak lagi memenuhi syarat untuk menjadi warga negara Bahrain.
Menurut hukum yang berlaku di Bahrain, pencabutan kewarganegaraan dapat dilakukan terhadap individu yang dianggap mengancam keamanan nasional atau bertindak melawan negara, seperti dikutip dari laman Al Jazeera pada Rabu (29/4).
Ramai Dikritik
Keputusan tersebut mendapatkan kritik dari berbagai organisasi hak asasi manusia. Bahrain Institute for Rights and Democracy, yang berbasis di London, menyebut kebijakan ini sebagai langkah "berbahaya" yang berpotensi melanggar hukum internasional.
Organisasi tersebut juga menyoroti kurangnya transparansi dalam proses ini, karena identitas individu yang terkena dampak belum diumumkan secara publik. Hingga saat ini, tidak ada kejelasan mengenai apakah mereka telah ditahan, berada di dalam negeri, atau di luar Bahrain, serta apakah mereka memiliki kewarganegaraan lain.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, pada akhir Februari. Teheran menuduh negara-negara tersebut memberikan dukungan kepada Amerika Serikat dalam operasi militernya.
Serangan balasan dari Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan pada beberapa fasilitas militer, termasuk pangkalan angkatan laut AS di Bahrain yang menjadi target rudal dan drone. Situasi sempat mereda setelah gencatan senjata diberlakukan pada 9 April melalui mediasi Pakistan, meskipun perundingan untuk penyelesaian konflik secara permanen masih terus berlangsung.
Diskriminasi Komunitas Syiah di Bahrain
Di dalam negeri, isu pencabutan kewarganegaraan ini juga berkaitan dengan ketegangan yang telah lama ada antara pemerintah Bahrain dan komunitas Syiah. Selama bertahun-tahun, komunitas Syiah mengeluhkan adanya diskriminasi yang mereka alami.
Pemerintah Bahrain sering kali menuduh Iran terlibat dalam memicu ketidakstabilan di negara ini, termasuk selama gelombang protes Arab Spring pada tahun 2011.