Konflik Makin Memanas, Arab Saudi Usir Diplomat Iran
Keputusan ini diambil menyusul serangan yang dilakukan Iran ke sejumlah negara di kawasan Teluk dalam beberapa waktu terakhir.
Pemerintah Saudi Arabia memutuskan mengusir sejumlah diplomat Iran dengan menetapkan mereka sebagai persona non grata. Para diplomat tersebut diberi waktu 24 jam untuk meninggalkan wilayah Saudi.
Keputusan ini diambil menyusul serangan yang dilakukan Iran ke sejumlah negara di kawasan Teluk dalam beberapa waktu terakhir.
Mengutip Middle East Monitor, Minggu (22/3/2026), dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu malam, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras serangan Iran terhadap negara-negara anggota Gulf Cooperation Council.
Diplomat yang diminta angkat kaki terdiri dari atase militer Iran, asisten atase, serta tiga staf Kedutaan Besar Iran lainnya.
Pemerintah Saudi menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip hubungan bertetangga, serta kedaulatan negara.
Selain itu, tindakan Iran juga disebut melanggar sejumlah kesepakatan internasional, termasuk kesepakatan Beijing dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Saudi bahkan menilai tindakan tersebut bertentangan dengan nilai persaudaraan Islam yang selama ini diklaim oleh Iran.
Dampak Serangan Iran ke Hubungan Diplomatik Saudi
Pemerintah Saudi menegaskan bahwa serangan ini akan berdampak besar terhadap hubungan kedua negara, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang.
Kerajaan juga menegaskan siap mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negaranya.
Arab Saudi menjadi negara kedua yang mengambil langkah tegas terhadap Iran sejak konflik memanas pada 28 Februari.
Sebelumnya, Qatar juga telah mengusir atase militer dan keamanan Iran. Langkah itu diambil setelah serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas gas alam cair di Ras Laffan.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Sebagai balasan, Iran menggempur sejumlah target dengan drone dan rudal, termasuk wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.