Menko AHY Dorong Alumni Taruna Nusantara Terjun ke Dunia Politik
AHY menilai bahwa kontribusi alumni Taruna Nusantara selama ini masih didominasi sektor militer, birokrasi, dan swasta.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong alumni Taruna Nusantara yang tergabung dalam Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) untuk mulai mengambil peran di dunia politik dan pemerintahan.
AHY menilai bahwa kontribusi alumni Taruna Nusantara selama ini masih didominasi sektor militer, birokrasi, dan swasta. Padahal, kata dia Indonesia juga membutuhkan lebih banyak figur dari Ikastara di dunia politik.
"Saya tidak mengajak politik praktis di sini, tetapi ingat, negara ini adalah negara demokrasi yang juga menganut sistem politik yang bisa kita ikuti semua. Election setiap 5 tahun," kata AHY dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) XI Ikastara di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5).
Ia mengatakan bahwa keterlibatan alumni Taruna Nusantara di jalur politik bukan sesuatu yang keliru. Menurut dia, proses politik memiliki peran sentral dalam menentukan arah kebijakan negara.
"Saya berharap ke depan, kita semua berharap ke depan semakin banyak Ikastara yang mengambil peran-peran di pemerintahan. Sebelum pada pemerintahan di tingkat tertinggi, di pusat atau nasional, tentu ada pemerintahan di tingkat kabupaten kota dan provinsi," ujarnya.
Bisa Jadi Politisi atau Wakil Rakyat
Dia menyampaikan, tidak salah jika alumni Taruna Nusantara berkiprah di jalur politik, semisal menjadi politisi atau wakil rakyat di berbagai tingkatan pemerintahan.
"Boleh ada yang tidak suka dengan DPR, dengan wakil rakyat, tapi realitasnya adalah setiap kebijakan politik itu diawali dan diakhiri oleh proses politik dan itu proses legislatif dan eksekutif," ucap AHY.
Putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menegaskan dunia politik dan pemerintahan menjadi jalur strategis untuk menciptakan perubahan nasional. Oleh sebab itu, ia meminta alumni Ikastara membuka ruang yang lebih luas untuk terjun ke dunia politikus.
"Karena dunia politik, garis miring, dunia pemerintahan, garis miring, dunia birokrasi, pada akhirnya kalau ingin melakukan perubahan dan transformasi, mau tidak mau, suka tidak suka, harus melalui jalur-jalur seperti itu," kata AHY.