Sikap Trump dalam Tiga Hari Perang AS-Iran: Awalnya Sombong, Berujung Minta Damai
Dalam tiga hari, sikap politik Presiden AS Donald Trump berubah drastis. Semula gagah melawan Iran, kini justru minta damai.
Sabtu (21/6), wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak serius mengawasi operasi militer serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran. Menggunakan topi merah bertuliskan ‘make America Great Again’ Trump dikelilingi oleh sejumlah pejabat tinggi pemerintah.
Tampak hadir Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan. Bersama mereka, Trump menyaksikan pelaksanaan operasi militer. Dengan sombongnya Trump menyebut "serangan militer yang sangat berhasil" terhadap tiga situs nuklir utama Iran yakni Fordow, Isfahan, dan Natanz.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (21/6) melalui platform Truth Social di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan negara-negara Barat di kawasan Timur Tengah. Trump menegaskan, seluruh pesawat tempur milik AS telah meninggalkan wilayah udara Iran setelah menjalankan misi mereka.
“Selamat kepada prajurit Amerika kita yang hebat. Tidak ada militer lain di dunia yang bisa melakukan ini. SEKARANG WAKTUNYA UNTUK PERDAMAIAN!”
Usai serangan itu, Trump mengancam Iran jika tidak ingin berdamai. Trump mengeluarkan dua pilihan, perdamaian atau tragedi. Trump meyakini, tidak ada militer dari negara lain yang bisa mengalahkan kekuatan militer AS.
"Akan ada perdamaian atau akan ada tragedi bagi Iran, jauh lebih besar daripada yang telah kita saksikan selama delapan hari terakhir. Ingat, masih banyak target yang tersisa," kata Trump.
Hari Kedua, Trump Masih 'Lawan' Iran
Iran merespons tegas. Tidak ada ketakutan. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yaitu Ali Akbar Velayati, menegaskan pangkalan-pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS menjadi target serangan balasan.
“Negara mana pun di kawasan maupun di tempat lain yang digunakan oleh pasukan AS untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai target sah bagi angkatan bersenjata kami,” ungkapnya dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi IRNA.
“AS menyerang jantung dunia Islam dan harus menunggu konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki.”
Dua hari kemudian, Iran benar-benar membalas dendam pada AS. Iran meluncurkan rudal terhadap pangkalan militer udara Amerika Serikat Bernama Al Udeid di Qatar pada Senin (23/6), waktu setempat. Serangan rudal itu sebagai balasan menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Serangan yang dijuluki Promise of Victory (Janji Kemenangan).
Diberitakan Reuters, militer Iran menyatakan serangan rudal kuat itu menghancurkan pangkalan udara Al Udeid. Serangan itu disusul ledakan terdengar di seluruh ibu kota Qatar.
Para pejabat tersebut mengonfirmasi bahwa tidak ada dampak pada pangkalan yang berada di luar ibu kota Qatar, Doha. Seorang pejabat pertahanan AS menambahkan bahwa "Pangkalan Udara Al Udeid diserang oleh rudal balistik jarak pendek dan jarak menengah yang berasal dari Iran hari ini”.
"Saat ini, tidak ada laporan korban dari pihak AS. Kami memantau situasi ini dengan saksama dan akan memberikan informasi lebih lanjut segera setelah tersedia," kata pejabat tersebut, seperti dikutip dari laman aljazeera.com.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih terlihat mencoba berdiri gagah dengan mengatakan serangan Iran sebagai "respons yang sangat lemah”. Bahkan dia berterima kasih kepada para pemimpin negara itu karena memberikan "pemberitahuan awal" atas serangan balasan tersebut.
"Saya senang melaporkan bahwa TIDAK ADA warga Amerika yang terluka, dan hampir tidak ada kerusakan yang terjadi," tulis Trump di Truth Social.
"Yang terpenting, mereka telah mengeluarkan semuanya dari 'sistem' mereka, dan mudah-mudahan, tidak akan ada lagi KEBENCIAN. Saya ingin berterima kasih kepada Iran karena telah memberi kami pemberitahuan lebih awal, yang memungkinkan tidak ada nyawa yang hilang, dan tidak ada yang terluka.”
Hari Ketiga: Iran Mengamuk, Trump Minta Damai
Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Iran kembali mengamuk. Kantor berita Iran, IRNA, mewartakan serangan Rudal juga diluncurkan ke pangkalan AS di Iraq, tetapi tanpa rincian lebih lanjut. Dikabarkan ada sebuah drone tak dikenal diduga milik Iran menyerang Pangkalan Militer Taji yang berada di utara Baghdad, Irak, Selasa (24/6).
Pangkalan ini saat ini dioperasikan oleh tentara Irak. Kepala Komando Operasi Baghdad, Letnan Jenderal Walid al-Tamimi, mengatakan, serangan tersebut menyasar satu lokasi di dalam kompleks militer di sana.
"Sebuah pesawat nirawak tak dikenal menyerang satu lokasi di dalam pangkalan," ujarnya kepada kantor berita resmi Irak, Iraqi News Agency (INA).
Serangan ini membuat Trump bereaksi. Kali ini reaksinya berbeda. Donald Trump kini mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah menyepakati gencatan senjata. Hal ini diumumkan tidak lama setelah Iran meluncurkan serangan rudal terbatas pada Senin (23/6/2025) malam ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebagai balasan atas serangan terhadap tiga situs nuklirnya pada Minggu (22/6).
Trump menulis di Truth Social bahwa gencatan senjata bertahap selama 24 jam akan dimulai sekitar tengah malam Selasa waktu Timur Amerika Serikat (AS). Dia menjelaskan bahwa kedua negara akan diberi waktu enam jam untuk mengakhiri dan menyelesaikan misi akhir mereka yang sedang berlangsung sebelum gencatan senjata secara penuh diberlakukan.
“Dengan asumsi bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya dan itu akan terjadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua negara, Israel dan Iran, karena memiliki stamina, keberanian, dan kecerdasan untuk mengakhiri apa yang seharusnya disebut 'Perang 12 Hari',” tulis Trump, sebagaimana diberitakan Reuters.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan, Israel setuju untuk menghentikan serangan selama Iran tidak melanjutkan operasi militernya.
Sementara itu, seorang pejabat tinggi Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Teheran menyetujui gencatan senjata setelah dibujuk oleh Qatar. Serangan Iran pada Senin mengindikasikan bahwa negara itu bersiap untuk mundur dari ketegangan yang meningkat di kawasan yang sudah labil. Menurut Presiden Trump, AS telah diberi peringatan oleh Iran sebelum serangan dan tidak ada korban jiwa. Dia juga mengecilkan dampaknya dengan menyebut serangan itu sebagai respons yang sangat lemah.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran tidak akan melanjutkan serangan militernya jika Israel menghentikan agresi lebih dulu. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di platform X, Selasa (24/6/2025), tak lama setelah tenggat waktu pukul 04.00 waktu Teheran (07.30 WIB) yang dia tetapkan.
"Sampai saat ini, tidak ada kesepakatan tentang gencatan senjata atau penghentian operasi militer. Namun, asalkan rezim Israel menghentikan agresi ilegalnya terhadap rakyat Iran paling lambat pukul 4 pagi waktu Teheran, kami tidak berniat melanjutkan respons kami setelahnya," tegas Araghchi.