Video Bekas Pangkalan Militer AS di Irak Dibombardir Drone Hingga Terbakar Hebat Usai Serangan Iran ke Qatar
Beredar video bekas pangkalan militer AS di Irak terbakar hebat akibat serangan drone.
Iran baru saja menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar, Senin malam waktu setempat. Serangan tersebut diluncurkan sebagai aksi balasan atas serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir milik Iran.
Usai pangkalan militernya diserang, Presiden AS, Donald Trump langsung mengumumkan gencatan senjata Israel dan Iran. Dia mengklaim keduanya telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata total.
Namun, beberapa menit setelah pengumuman itu, bekas kamp militer AS lain yang berlokasi di Irak mendapatkan serangan yang tidak terduga, hingga menyebabkan kebakaran hebat.
Kamp Taji di Irak Dibombardir Drone
Mengutip dari laman hindustantimes.com, disebutkan jika terjadi sebuah ledakan di Baghdad, Irak, beberapa menit setelah Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran. Ledakan itu terjadi pada Selasa dini hari waktu setempat.
Seorang pejabat militer Irak mengatakan jika sebuah pesawat tanpa awak alias drone menargetkan kamp Taji, atau Taji Military Base. Sebuah kamp militer bekas AS yang berlokasi sekitar 30 km di utara Baghdad.
Kamp ini difungsikan sebagai pelatihan militer dan logistik. Dan digunakan oleh pasukan AS, Irak, dan beberapa negara koalisinya. Diketahui, kamp ini memang sering menjadi sasaran roket milisi.
Meski demikian, dikatakan jika tidak ada korban yang jatuh akibat serangan drone ke kamp Taji, Baghdad. Serangan drone itu diduga mengenai sistem radar di pangkalan militer hingga menyebabkan kerusakan material.
Video-video serangan di kamp Taji tersebar di media sosial dan menjadi perbincangan publik, karena menimbulkan kebakaran hebat. Sampai sekarang belum diketahui siapa pihak yang melakukan serangan ke kamp Taji tersebut.
“Sumber Irak: Sebuah ledakan terjadi di dalam kamp Taji tentara Irak di utara Baghdad,” tulis keterangan video di akun X @qudsn.
Serangan Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata
Bom yang dijatuhkan oleh drone di kamp Taji, Baghdad, terjadi beberapa menit setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan jika Israel dan Iran akan melakukan gencatan senjata yang disebut sebagai ‘gencatan senjata total dan menyeluruh’.
Kedua negara yang sedang berperang tersebut sepakat untuk menurunkan senjatanya jika beberapa syarat yang ditentukan dapat disepakati bersama. Menurut Trump, kedua negara tersebut telah sepakat untuk menerima syarat masing-masing.
Trump mengatakan bahwa prosesnya akan dilakukan secara bertahap selama 12 jam ke depan. Ia juga menambahkan bahwa itu berarti pertanda akhir peperangan. Meski begitu, pejabat dari Israel atau Iran belum memberikan konfirmasi apa pun tentang masalah ini.
Seorang pejabat dari Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden AS telah menjadi perantara kesepakatan gencatan senjata melalui panggilan telepon dengan Netanyahu. Pejabat itu melanjutkan jika tim Trump juga berhubungan dengan pejabat Iran.
Wakil Presiden AS J D Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Utusan Khusus Steve Witkoff diketahui juga berkomunikasi dengan kedua belah pihak agar kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel tercapai.
Iran Bantah Sudah Sepakat Gencatan Senjata dengan Israel
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi merepons pernyataan Trump yang mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah menyepakati gencatan senjata itu. Abbas Araghchi menegaskan hingga kini belum ada kesepakatan gencatan senjata maupun penghentian operasi militer dengan Israel.
Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa serangan Iran dilakukan karena Israel memulai perang lebih dulu terhadap negaranya.
"Sampai saat ini tidak ada 'perjanjian' mengenai gencatan senjata atau penghentian operasi militer," kata Abbas Araghchi seperti dikutip dari akun X miliknya, Selasa (24/6).
Menurut Abbas Araghchi, Iran membuka ruang gencatan senjata dengan syarat rezim Israel menghentikan agresi ilegalnya terhadap rakyat Iran selambat-lambatnya pukul 4 pagi waktu Teheran. Apabila Israel setuju, Abbas Araghchi mengatakan, Iran tidak akan melanjutkan serangan balasan.
"Keputusan akhir mengenai penghentian operasi militer kami akan diambil nanti," ujar dia.