Ini Jumlah Bom Iran Serang Pangkalan AS di Qatar, Ternyata Sama dengan Bombardir yang Diterima Situs Nuklirnya
Iran balas serang pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar.
Serangan rudal Iran bertajuk 'Promise of Victory (Janji Kemenangan)' ke pangkalan militer utama Amerika Serikat (AS) di Al-Udeid Qatar pada Senin (23/6) adalah balasan dari serangkaian serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada pekan lalu.
Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan Al-Udeid di Qatar dan sempat diumumkan oleh televisi nasional Iran Press TV.
"Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan rudal yang kuat dan menghancurkan terhadap pangkalan Al Udeid di Qatar untuk merespons agresi AS," ungkap media tersebut dilansir Tasnim News Agency, Selasa (24/6/2025).
Korps Garda Revolusi Iran (IGRC) menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurutnya serangan itu adalah peringatan bagi AS dan sekutunya.
Serangan rudal Iran pada Senin (23/6) malam itu merupakan tanggapan atas serangan AS terhadap tiga lokasi nuklir di Iran sehari sebelumnya.
Sebelumnya, Israel menyerang situs nuklir Iran pada tanggal 13 Juni. Kemudian, AS turun tangan dan melakukan serangan militer terhadap tiga lokasi nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan Iran pada Minggu (22/6) dini hari.
Jumlah Bom Iran Serang Pangkalan AS di Qatar
Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan saat menyerang pangkalan Al-Udeid, militer mereka meluncurkan jumlah rudal yang sama dengan jumlah bom yang digunakan AS dalam dalam menyerang fasilitas nuklir Iran, serangan pada hari Minggu kemarin.
SNSC mengeluarkan pernyataan setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Senin malam menargetkan pangkalan udara Al-Udeid milik Amerika Serikat di Qatar dengan serangan rudal yang dahsyat dan kuat dalam operasi dengan nama sandi "Janji Kemenangan".
"Menanggapi tindakan agresif dan kurang ajar Amerika Serikat terhadap tempat dan fasilitas nuklir Iran, Angkatan Bersenjata kami yang kuat menghancurkan pangkalan udara pasukan Amerika di Al-Udeid Qatar beberapa jam yang lalu," jelasnya.
Meski terbilang besar, serangan itu menyasar lokasi yang letaknya jauh darir perkotaan dan pemukiman di Qatar.
"Jumlah rudal yang digunakan dalam operasi yang berhasil ini sama dengan jumlah bom yang digunakan AS dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, dan pangkalan yang menjadi sasaran serangan oleh pasukan kuat Iran itu jauh dari fasilitas perkotaan dan daerah pemukiman di Qatar," tambah SNSC.
Lebih lanjut, SNSC menyebut serangan itu tidak mengancam hubungan Iran dengan Qatar dan mengganggu keamanan nasional negara tetangga mereka itu.
“Langkah ini (serangan rudal Iran) tidak menimbulkan ancaman apa pun terhadap negara sahabat dan persaudaraan kami, Qatar, dan rakyatnya yang mulia, dan Republik Islam Iran tetap berkomitmen untuk menjaga dan melanjutkan hubungan yang hangat dan bersejarah dengan Qatar,” kata pernyataan itu.
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata
Pasca serangan ke pangkalan militer Al-Udeid pecah, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata total antara Iran dan israel.
"Selamat kepada semuanya! Telah disetujui sepenuhnya oleh dan antara Israel dan Iran bahwa akan ada gencatan senjata yang menyeluruh dan total (dalam waktu sekitar 6 jam dari sekarang, ketika Israel dan Iran telah mereda dan menyelesaikan misi terakhir mereka yang sedang berlangsung!), selama 12 jam, di mana pada saat itu perang akan dianggap berakhir!" tulis Trump di Truth Social, Selasa (24/6).
Trump merinci isi kesepakatan gencatan senjata yang akan dimulai hingga 24 jam ke depan.
"Secara resmi, Iran akan memulai gencatan senjata dan, pada jam ke-12, Israel akan memulai gencatan senjata dan, pada jam ke-24, akhir resmi dari perang 12 hari akan disambut oleh dunia."
"Selama setiap gencatan senjata, pihak lain akan tetap damai dan hormat. Dengan asumsi bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya, yang pasti akan terjadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua negara, Israel dan Iran, karena memiliki stamina, keberanian, dan kecerdasan untuk mengakhiri, apa yang seharusnya disebut, 'Perang 12 Hari'," lanjut Trump.