Alarm Mitigasi Sesar Lokal di Balik Gempa Magnitudo 6,7 Palu
Hantaman gempa akibat percabangan sesar dangkal tersebut mengakibatkan 67 rumah warga rusak.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr Daryono mengingatkan gempa tektonik bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) menjadi alarm keras mengenai tingginya risiko guncangan hebat yang dipicu oleh aktivitas sesar-sesar lokal.
Daryono menjelaskan, dengan begitu strategi mitigasi bencana di Sulawesi Tengah tidak boleh lagi hanya terfokus pada zona sesar utama, melainkan harus mulai memprioritaskan jaringan percabangan sesar aktif di sekitarnya.
"Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat," kata Daryono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6).
Bahaya di Balik Klaster Percabangan Sesar
Daryono memaparkan, pengabaian terhadap klaster percabangan sesar ini sangat berisiko karena karakteristik gempa di wilayah tersebut bersifat kerak dangkal atau shallow crustal earthquake yang melontarkan energi destruktif maksimum langsung ke permukaan.
Kondisi tektonik mikro tersebut terbukti memicu kerusakan masif di sepanjang koridor Palolo-Sausu, akibat rambatan energi dari jalinan sesar lokal seperti Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, hingga Segmen Saluki.
Kompleksitas patahan ini juga diperparah oleh adanya fenomena stress partitioning atau pembagian tegangan, yang menyebabkan terjadinya keretakan (ruptur) sekunder secara simultan di luar koridor patahan geser utama Palu-Koro.
Dampak Kerusakan Gempa
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setidaknya sampai Selasa (16/6) malam manifestasi dari hantaman gempa akibat percabangan sesar dangkal tersebut telah mengakibatkan kerusakan fisik pada sedikitnya 67 unit rumah warga di wilayah terdampak.
Kabupaten Sigi menjadi daerah yang mengalami dampak kerusakan paling parah dengan total 47 unit rumah, di samping hancurnya sejumlah infrastruktur; yang meliputi enam fasilitas ibadah, dua jembatan, dua gedung perkantoran, dan tiga tempat usaha.
Guncangan dari klaster sesar lokal ini pun memicu amblesan tanah yang cukup dalam, hingga memutus total aksesibilitas pada ruas jalan raya utama yang menghubungkan rute transportasi Palu--Sigi-- Poso.
Oleh karena itu, menurut dia, IABI mendesak pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk segera memperketat aturan tata ruang berbasis mikrozonasi serta mengaudit ketahanan struktur bangunan rumah warga agar adaptif terhadap ancaman sesar lokal.