Di tengah konflik Israel-Iran yang kian memanas, muncul kembali video lama eks Jenderal Amerika Serikat. Dalam video tersebut, Ia mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah merencanakan perang untuk menumbangkan 7 musuh Israel.
Tidak tanggung-tanggung, rencana ini telah dibuat sejak tahun 2001 atau tepat sekitar 10 hari pasca peristiwa 9/11. Rupanya, rencana tersebut benar-benar dilaksanakan. Akan tetapi, dari ke-7 negara yang ingin ditumbangkan, hanya tinggal 1 negara saja yang belum tiumbang.
Lantas bagaimana rencana Amerika Serikat yang ingin perang untuk tumbangkan 7 musuh Israel? Negara mana yang hingga kini belum tumbang?
Melansir dari akun TikTok free.palestine.ina, Kamis (26/6), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Perang dengan Irak
Belakangan, video mantan Jenderal Amerika Serikat yang mengungkapkan negara yang menjadi target negaranya, kembali viral di media sosial. Dalam video tersebut, Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat berniat menumbangkan tujuh negara setelah peristiwa 9/11. Salah satu negara yang menjadi targetnya adalah Irak.
"Sekitar sepuluh hari setelah 9/11, saya pergi ke Pentagon. Saya melihat sekretaris pertahanan Rumsfield dan Deputi Sekretaris Wolfowitz. Saya turun ke bawah menyapa beberapa orang staf gabungan yang pernah bekerja dengan saya," ujar Wesley Clark, mantan Jenderal Amerika Serikat.
"Dan salah seorang Jenderal memanggil saya lalu berkata, 'Anda harus masuk untuk berbicara dengan saya sebentar'. Saya berkata, 'Anda terlalu sibuk'. Di bilang, 'Tidak, tidak. Kita telah membuat keputusan kita akan berperang dengan Irak'," mendengar pernyataan tersebut, Clark langsung bertanya alasannya.
"Katanya, 'Saya tidak tahu. Saya rasa mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan'," jelasnya.
Advertisement
Alasan Tak Masuk Akal AS untuk Tumbangkan 7 Negara
Rencana tersebut tentu membuat Clark terkejut. Ia kemudian menanyakan apakah Amerika menemukan beberapa informasi yang menghubungkan dengan Saddam Al-Qaeda. Namun ternyata, pihaknya saat itu tidak menemukan informasi terbaru.
Lebih lanjut, rekannya kemudian mengatakan perkiraannya mengapa Amerika ingin menumbangkan 7 negara dalam 5 tahun. Alih-alih ada permasalahan, alasan mereka justru terdengar tak masuk akal.
"Jadi, saya berkata, 'Apakah mereka menemukan beberapa informasi yang menghubungkan Saddam dengan al-Qaeda?'. Dia bilang, 'Tidak, tidak. Tidak ada yang terbaru. Mereka baru saja buat keputusan untuk berperang dengan Irak'," paparnya.
"Dia bilang, 'Saya rasa kita tidak tahu apa yang harus dilakukan tentang teroris, tapi kami memiliki militer yang kuat dan kita bisa menumbangkan pemerintahan'," lanjutnya.
"Dan dia berkata, 'Kurasa jika satu-satunya alat yang Anda miliki adalah palu, semua masalah akan dianggap seperti paku'," kata mantan Jenderal Amerika Serikat menceritakan.
Advertisement
Pengeboman di Afghanistan
Beberapa minggu kemudian, Clark kembali menemui rekannya. Pada saat itu, mereka tengah melakukan pengeboman di Afghanistan.
Ia lantas mempertanyakan kembali rencana Amerika yang ingin menumbangkan Irak. Siapa sangka, rekannya justru mengatakan bahwa rencana Amerika justru lebih parah dari itu.
"Lalu, saya kembali menemuinya beberapa minggu kemudian dan saat itu kami sedang mengebom Afghanistan. Saya berkata, 'Apakah kita masih akan berperang dengan Irak?'. Dan dia bilang, 'Oh, ini bahkan lebih parah lagi'," tambahnya.
Advertisement
Daftar 7 Negara yang Ingin Ditumbangkan
Clark kemudian diberi tahu oleh rekannya mengenai daftar-daftar negara yang menjadi target Amerika Serikat. Bukan untuk dibantu, negara-negara tersebut ditargetkan untuk ditumbangkan atau dihancurkan.
Diungkapkan oleh Clark, ada 7 negara yang masuk dalam daftar. Di antaranya Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan dan Iran.
"Dia mengatakan, 'Saya baru saja mendapatkan ini dari atas, maksudnya Kantor Sekretaris Pertahanan hari ini'. Dan dia berkata, 'Ini adalah sebuah memo yang menggambarkan bagaimana kita akan menumbangkan tujuh negara dalam lima tahun. Mulai dari Irak lalu Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan dan terakhir Iran'," ungkapnya.
Advertisement
Kebijakan Israel Menjijikan
Dalam unggahan yang beredar, terlihat pula rekaman video pernyataan dari seorang pengamat Ekonomi dan pengamat Kebijakan. Ia mengaku sebagai seorang Yahudi Amerika.
Menariknya, Ia justru mengaku tidak simpati dengan kebijakan Israel. Bahkan menurutnya Israel sangat menjijikan lantaran mereka justru menghalangi perdamaian.
"Sebagai Yahudi Amerika, saya tidak punya simpati terhadap kebijakan Israel sama sekali," ujar Prof, Jeffrey Sachs, pengamat Ekonomi dan pengamat Kebijakan.
"Menurut saya mereka menjijikan karena mereka menghalangi perdamaian. Di tahun 2001, mereka yang disebut Neo-konservatif yang juga disebut kelompok Zionis di pemerintahan Amerika, menerbitkan dokumen yang menyerukan tujuh perang di Timur Tengah dalam lima tahun," lanjut Sachs.
"Dan tujuh perang itu untuk menumbangkan musuh Israel. Dan sudah terjadi enam perang itu untuk kepentingan Israel. Dan sekarang Israel sedang memaksakan perang dengan Iran," tutupnya.
Advertisement
Satu Negara Belum Tumbang
Rencana Amerika Serikat untuk menumbangkan 7 negara tampaknya benar-benar dilaksanakan. Saat ini, Amerika Serikat sedang 'ikut campur' dalam konflik Israel-Iran.
Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Doal Trump mengklaim telah mengebom dan menghancurkan tiga fisilitas nuklir milik Iran beberapa waktu lalu. Alih-alih menyerah, Iran justru semakin gencar untuk melakukan serangan.
Tak lama sejak fasilitas nuklirnya dibom, Iran meluncurkan serangan rudalnya ke pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar. Di sisi lain, Iran juga masih terus mengirimkan serangan rudal balistiknya ke Israel.
Konflik Israel-Iran ini pecah sejak Israel meluncurkan serangan ke Teheran, Iran pada Jumat (13/6). Serangan ini menargetkan sekitar 100 lokasi, termasuk fasilitas nuklir.
Mirisnya, serangan Israel mengakibatkan tewasnya beberapa sejumlah pejabat tinggi militer dan tokoh penting, seperti kepala angkatan bersenjata serta ilmuwan nuklir terkemuka.
@free.palestine.ina Rencana Perang Amerika melawan Iran... #FreePalestine ♬ suara asli - Free.Palest.Ina