Pengamat UNPAD: Perang Israel-Iran Berdampak Besar pada Kawasan dan Energi Global
Pengamat Hubungan Internasional UNPAD, Teuku Rezasyah, memprediksi dampak besar perang Israel-Iran terhadap kawasan Timur Tengah, termasuk potensi serangan balasan Iran dan gangguan lalu lintas energi global.
Serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran diperkirakan akan membawa konsekuensi signifikan bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Konflik ini memicu kekhawatiran global akan eskalasi lebih lanjut di salah satu wilayah paling strategis di dunia.
Teuku Rezasyah, seorang pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran (UNPAD), menyatakan bahwa eskalasi konflik ini akan memiliki dampak yang sangat besar dan luas. Pernyataan ini disampaikan Rezasyah saat dihubungi ANTARA di Jakarta.
Meskipun banyak negara di Timur Tengah secara terbuka menyatakan tidak mengizinkan wilayah udaranya dilewati, serangan diam-diam AS tetap dilakukan dari sejumlah pangkalan militer yang tersebar di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan kompleksitas dan sensitivitas operasi militer di kawasan.
Potensi Serangan Balasan Iran
Rezasyah secara spesifik memprediksi bahwa Iran akan melancarkan serangan balasan yang habis-habisan terhadap Israel. Prediksi ini didasarkan pada pola respons Iran sebelumnya, seperti yang terlihat dalam Perang Dua Belas Hari pada Juni 2025 yang menjadi preseden penting.
Namun, pembalasan yang terjadi saat ini masih bersifat kecil dan belum mencapai puncaknya. Iran masih menunggu fatwa final dari Ayatullah, pemimpin spiritual tertinggi, yang belum memberikan jawaban definitif dan masih mengeluarkan pernyataan standar.
Sebelum melancarkan serangan balasan skala penuh, Iran juga perlu mempertimbangkan berbagai faktor penting. Aspek-aspek seperti kondisi cuaca dan penentuan target serangan yang presisi menjadi krusial dalam perencanaan militer mereka.
Pemahaman mendalam terhadap kondisi cuaca, serta penyesuaian dengan sistem penginderaan jauh dan satelit yang ada, sangat krusial untuk memastikan efektivitas dan keberhasilan operasi militer Iran. Kesiapan teknologi menjadi penentu utama.
Dukungan Internasional dan Target Strategis
Dalam skenario konflik yang lebih luas, Iran kemungkinan besar akan mendapatkan dukungan signifikan dari negara-negara besar di panggung internasional. China, Rusia, dan Pakistan disebut-sebut sebagai kekuatan yang berpotensi menjadi sekutu Iran.
Lebih lanjut, Rezasyah memperkirakan bahwa pangkalan militer Amerika Serikat yang berlokasi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Mesir telah berada dalam daftar sasaran peluru kendali balistik Iran. Ini menunjukkan jangkauan dan ancaman yang serius.
Keadaan ini menempatkan negara-negara di atas dalam posisi yang sangat sulit. Iran dianggap sebagai satu-satunya kekuatan yang berani secara terbuka melawan ambisi teritorial Israel dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Dukungan dari negara-negara besar dan kemampuan Iran menargetkan pangkalan AS menunjukkan pergeseran dinamika kekuatan di wilayah tersebut, menambah kompleksitas geopolitik yang sudah ada.
Implikasi Terhadap Lalu Lintas Energi Global
Selain potensi serangan langsung, Rezasyah juga menggarisbawahi kemungkinan Iran untuk melakukan latihan perang berskala besar di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital bagi sebagian besar pasokan minyak dunia.
Aktivitas militer semacam ini di Selat Hormuz dapat secara signifikan mempengaruhi lalu lintas energi dunia. Gangguan sekecil apapun di jalur ini berpotensi memicu gejolak harga minyak dan pasokan global.
Mengingat potensi serangan balasan besar-besaran yang kemungkinan dapat dilakukan oleh Iran, konflik kali ini diperkirakan akan membawa dampak yang sangat besar dan meluas terhadap seluruh kawasan Timur Tengah. Stabilitas regional akan sangat terancam.
Eskalasi konflik ini tidak hanya berdampak pada aspek militer dan politik, tetapi juga ekonomi global, terutama melalui jalur energi yang krusial. Dunia patut mewaspadai konsekuensi jangka panjangnya.
Sumber: AntaraNews