Diplomasi Prabowo di Paris: Perkuat Pertahanan, Ekonomi, dan Suara Palestina
Presiden Prabowo Subianto telah tiga kali mengunjungi Paris dalam lima bulan pertama tahun 2026. Kunjungan ini menggarisbawahi intensitas Diplomasi Prabowo di Paris untuk memperkuat kerja sama strategis Indonesia-Prancis di berbagai sektor, termasuk perta
Presiden Prabowo Subianto menunjukkan intensitas diplomasi yang luar biasa dengan mengunjungi Paris, Prancis, sebanyak tiga kali dalam kurun waktu lima bulan pertama tahun 2026. Kunjungan yang terjadi pada Januari, April, dan Mei ini merupakan frekuensi yang langka bagi seorang kepala negara untuk menyambangi satu negara mitra dalam periode sesingkat itu. Bahkan, Presiden Prabowo sendiri mengakui hal ini di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron, "Tahun ini saja saya sudah tiga kali ke Prancis."
Frekuensi kunjungan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan cerminan dari substansi strategis yang mendalam dalam hubungan bilateral kedua negara. Paris kini menjadi pusat gravitasi penting bagi diplomasi Indonesia, terutama dalam mengawal agenda-agenda krusial yang dibawa pulang ke Tanah Air. Fokus utama dari serangkaian kunjungan ini meliputi penguatan kerja sama pertahanan, percepatan perjanjian ekonomi komprehensif, dan dialog geopolitik mengenai isu-isu global.
Kunjungan berulang Presiden Prabowo ke Paris ini bertujuan untuk mengamankan kepentingan nasional Indonesia di kancah internasional. Dari modernisasi alutsista hingga integrasi ekonomi dengan pasar Eropa, serta menyuarakan keadilan bagi Palestina, setiap lawatan memiliki agenda spesifik yang memerlukan pengawalan langsung di tingkat kepala negara. Hal ini menegaskan komitmen Indonesia untuk membangun kemitraan strategis yang kokoh dan saling menguntungkan dengan Prancis.
Perkuat Alutsista dan Kemandirian Industri Pertahanan
Hubungan kerja sama Indonesia-Prancis di bidang pertahanan telah terjalin jauh sebelum Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden, tepatnya saat ia masih menjabat Menteri Pertahanan. Tonggak penting dari kerja sama ini adalah kesepakatan lima kerja sama pertahanan, termasuk pembelian jet tempur Rafale, yang dicapai pada Februari 2022 saat Prabowo bertemu dengan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Florence Parly.
Komitmen tersebut kini telah berwujud nyata dengan pengiriman tiga unit pertama jet tempur Dassault Rafale pada Januari 2026 dari total 42 unit yang dipesan. Pesawat-pesawat canggih ini telah ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, menandai babak awal modernisasi kekuatan udara TNI AU yang telah berlangsung hampir empat tahun. Pengiriman berikutnya dijadwalkan pada pertengahan tahun ini, memperkuat kapasitas pertahanan udara Indonesia.
Selain jet tempur, kerja sama pertahanan juga merambah sektor maritim melalui usaha patungan antara PT PAL Indonesia dan Naval Group Prancis. Kolaborasi ini bertujuan membangun kapal selam Scorpène Evolved yang dilengkapi teknologi propulsi dan persenjataan canggih. Proyek ini tidak hanya memperkuat alutsista laut Indonesia, tetapi juga memfasilitasi transfer pengetahuan untuk meningkatkan kemandirian industri maritim nasional, dengan pembangunan kapal selam perdana ditargetkan dimulai pada Juni 2026.
Dalam pertemuan di Istana Elysee, kedua negara sepakat untuk mendorong penguatan industri pertahanan melalui peningkatan kapasitas, produksi bersama (co-production), hingga kolaborasi teknologi persenjataan. Langkah ini memungkinkan Indonesia membangun ekosistem industri pertahanan yang lebih mandiri, dengan Prancis sebagai mitra transfer teknologi utama, menunjukkan komitmen jangka panjang dalam kemitraan strategis ini.
Dorong Percepatan Perjanjian IEU-CEPA
Di luar sektor pertahanan, agenda ekonomi menjadi fokus utama lainnya dalam kunjungan Presiden Prabowo ke Paris. Presiden secara eksplisit menempatkan percepatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) sebagai salah satu prioritas utama dalam pembahasannya dengan Presiden Emmanuel Macron di Istana Elysee.
IEU-CEPA merupakan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan 27 negara anggota Uni Eropa. Negosiasi perjanjian ini melibatkan banyak pihak, namun peran Prancis sangat strategis karena statusnya sebagai ekonomi terbesar kedua di blok tersebut setelah Jerman. Hal ini memberikan Prancis pengaruh signifikan dalam mendorong konsensus perundingan.
Dukungan Paris dinilai krusial karena memiliki bobot diplomatik yang mampu menggerakkan posisi kolektif Eropa. Mengingat negosiasi IEU-CEPA telah berjalan hampir satu dekade dengan sejumlah isu yang belum tuntas, lobi tingkat kepala negara menjadi instrumen vital yang tidak dapat digantikan oleh meja perundingan teknis semata.
Lawatan kali ini juga menghasilkan empat kesepakatan komersial baru dengan nilai mencapai 3,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp61,25 triliun. Kesepakatan ini difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan, memberikan konteks konkret di balik pertemuan yang sering tampak seremonial di permukaan.
Dukungan Konsisten untuk Keadilan Palestina
Selain isu pertahanan dan ekonomi, kedua kepala negara juga bertukar pandangan mengenai situasi geopolitik global, termasuk Timur Tengah, konflik Ukraina, hingga ketegangan di Laut China Selatan dan kawasan Asia Tenggara. Namun, isu Palestina mendapat penekanan paling eksplisit dari Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan tercapai tanpa keadilan bagi rakyat Palestina, dan menyatakan Indonesia sejalan dengan Prancis dalam menyikapi konflik di Gaza. Pernyataan ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam mendukung perjuangan Palestina di forum internasional.
Prabowo secara khusus mengapresiasi langkah Prancis yang mengajak negara-negara Eropa dan Barat untuk mendukung kemerdekaan Palestina, menyebut Prancis sebagai salah satu pelopor dalam isu tersebut. Bagi Indonesia, posisi Prancis di Eropa soal Palestina relevan secara diplomatik, mengingat Paris memiliki pengaruh dalam membentuk posisi kolektif Uni Eropa di forum multilateral.
Presiden Macron membalas dengan nada setara, memberikan apresiasi atas posisi Prabowo yang dinilainya berani dalam isu perdamaian Timur Tengah, termasuk pengakuan Palestina dan keterlibatan pasukan TNI dalam misi perdamaian di Lebanon. Dimensi geopolitik ini memberikan gambaran bahwa kunjungan ke Paris bukan sekadar kunjungan perdagangan, melainkan juga mitra dialog untuk membaca dinamika global yang berdampak langsung pada kepentingan Indonesia.
Sumber: AntaraNews