Selat Hormuz Memanas, Iran Ancam Lancarkan Serangan Balasan ke AS
Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa harapan untuk mencapai kesepakatan dalam waktu dekat adalah hal yang tidak realistis.
Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan "serangan panjang dan menyakitkan" terhadap posisi Amerika Serikat jika Washington melanjutkan aksi militer. Peringatan ini muncul di tengah kebuntuan yang terjadi dalam konflik, yang juga berkontribusi terhadap krisis energi global.
Hal ini terjadi setelah laporan yang menyatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump, sedang mempertimbangkan opsi serangan baru untuk menekan Teheran agar mau kembali ke meja perundingan mengenai program nuklir dan pembukaan Selat Hormuz.
Jalur laut yang sangat strategis ini masih ditutup, sekitar dua bulan setelah terjadinya konflik antara AS-Israel dan Iran, yang menyebabkan terhambatnya sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Kondisi ini telah menyebabkan lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi di seluruh dunia. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April, Iran tetap memblokir selat tersebut sebagai respons terhadap blokade angkatan laut AS yang menghalangi ekspor minyaknya. Situasi ini membuat upaya diplomatik antara kedua pihak terhambat, seperti yang dikutip dari laman Japan Today pada Jumat (1/5).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa harapan untuk mencapai kesepakatan dalam waktu dekat adalah tidak realistis, terlepas dari siapa yang menjadi mediator dalam proses tersebut.
Di sisi lain, laporan menunjukkan bahwa United States Central Command (CENTCOM) telah menyiapkan beberapa opsi militer, termasuk serangan udara terbatas dan kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk membuka kembali jalur pelayaran.
Seorang pejabat senior dari Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa setiap serangan baru, meskipun berskala kecil, akan memicu respons yang keras terhadap kepentingan AS di kawasan tersebut. Bahkan, komandan Angkatan Udara Iran mengancam akan menargetkan kapal perang AS jika konflik semakin meningkat.
Pengawasan Selat Hormuz
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Teheran akan terus mengontrol Selat Hormuz dan menolak keberadaan pihak asing di wilayah tersebut. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memberikan peringatan bahwa jika gangguan di jalur energi global ini berlanjut, hal itu dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia, peningkatan inflasi, serta lonjakan angka kemiskinan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab, telah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak. Mereka juga meminta warga yang saat ini berada di kawasan tersebut untuk segera kembali.
Upaya internasional untuk meredakan ketegangan terus dilakukan, termasuk rencana pembentukan koalisi maritim yang bertujuan untuk memastikan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, sejumlah negara menyatakan bahwa partisipasi mereka dalam koalisi tersebut akan bergantung pada berakhirnya konflik. Sampai saat ini, baik Washington maupun Teheran belum menunjukkan niat untuk berkompromi, yang memperpanjang ketidakpastian di kawasan Teluk dan berdampak luas terhadap stabilitas global.