Baru juga Capai Kesepakatan, Presiden AS Donald Trump Kembali Ancam Serang Iran
Trump juga menyatakan bahwa kesepakatan yang sedang dirancang akan menjamin Selat Hormuz terbuka secara permanen tanpa pungutan biaya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku siap melanjutkan aksi militer terhadap Iran apabila perundingan mengenai kesepakatan nuklir baru gagal mencapai hasil akhir.
Dalam wawancara dengan The New York Times pada Minggu (14/6), Trump menyebut bahwa jika Iran tidak menyepakati perjanjian nuklir dengan AS, pemerintahannya memiliki sejumlah opsi, termasuk melanjutkan operasi militer terhadap Teheran.
Menurut Trump, pembahasan mengenai kesepakatan tersebut dijadwalkan dimulai di Swiss pada Jumat mendatang. Selain opsi militer, ia juga mengisyaratkan kemungkinan peran Amerika Serikat sebagai "penjaga Timur Tengah" dengan imbalan 20 persen pendapatan kawasan tersebut.
Trump juga menyatakan bahwa kesepakatan yang sedang dirancang akan menjamin Selat Hormuz terbuka secara permanen tanpa pungutan biaya.
Pakistan Umumkan Kesepakatan Damai AS-Iran
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Senin (15/6) mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui negosiasi intensif.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh lini, termasuk di Lebanon. Tak lama kemudian, Trump turut mengonfirmasi kabar tersebut dan menyatakan bahwa kesepakatan itu telah rampung.
"Selamat kepada semuanya! Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan secara bersamaan, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!" tulisnya di platform Truth Social miliknya.
Trump Ungkap Keberatan Netanyahu
Dalam wawancara yang sama, Trump mengungkapkan bahwa proses tercapainya kesepakatan tersebut berlangsung meski mendapat keberatan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah pesawat tempur Israel membombardir wilayah pinggiran selatan Beirut pada Minggu pagi (14/6). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 15 lainnya, meskipun gencatan senjata masih berlaku. Demikian dilansir Antara, Senin (15/6/2026).
Trump menyayangkan serangan tersebut dan menilai aksi itu tidak semestinya terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai.
Serangan AS-Israel ke Iran dan Penutupan Selat Hormuz
Konflik terbaru bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu respons dari Teheran terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk serta mendorong penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata kemudian diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan.
Trump mengatakan bahwa keputusan menyerang Iran pada akhir Februari serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah penutupan Selat Hormuz telah memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, rincian lengkap kesepakatan damai tersebut hingga kini belum dipublikasikan. Sejumlah poin yang disampaikan Trump disebut masih menunggu konfirmasi resmi atau menjadi bagian dari negosiasi lanjutan.
Salah satu poin yang disebutkan adalah nota kesepahaman yang menangguhkan pungutan di Selat Hormuz selama 60 hari dan membuka peluang dialog regional mengenai masa depan jalur pelayaran strategis tersebut.
Fokus pada Program Nuklir Iran
Sepanjang wawancara, Trump membandingkan kerangka perjanjian baru dengan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dicapai pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama.
Menurutnya, perjanjian baru akan memastikan Iran tidak dapat mengembangkan ataupun memperoleh senjata nuklir.
Namun, komitmen tersebut sejatinya bukan hal baru. Iran telah menerima kewajiban untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sejak meratifikasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir pada 1970. Komitmen serupa juga kembali ditegaskan dalam kesepakatan nuklir 2015.
Selama tiga bulan perundingan yang dipimpin utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner, pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa Teheran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium bagi kepentingan sipil.
Menurut laporan The New York Times, salah satu isu yang masih dibahas adalah kemungkinan Iran menangguhkan aktivitas pengayaan uranium selama 20 tahun.
Trump mengisyaratkan bahwa dirinya dapat menerima masa penangguhan selama 15 tahun. Namun, ia menegaskan Iran hanya akan diizinkan melakukan pengayaan uranium pada tingkat rendah yang menurutnya tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer.
Kesepakatan nuklir era Obama sebelumnya juga menerapkan pembatasan serupa terhadap program nuklir Iran dan membatasi tingkat pengayaan uranium.
Namun setelah Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut pada 2018, Iran secara bertahap melampaui batasan yang telah disepakati, memperluas program pengayaan uraniumnya hingga mampu menghasilkan uranium dengan tingkat kemurnian mencapai 60 persen.