Sekjen Gelora: Serangan Israel-AS ke Iran Berpotensi Picu Perang Kawasan Timur Tengah

Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik menilai serangan Israel-AS ke Iran dapat memicu perang kawasan di Timur Tengah, menyeret banyak negara dan mengancam perdamaian global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sekjen Gelora: Serangan Israel-AS ke Iran Berpotensi Picu Perang Kawasan Timur Tengah
Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik menilai serangan Israel-AS ke Iran dapat memicu perang kawasan di Timur Tengah, menyeret banyak negara dan mengancam perdamaian global. (AntaraNews)

Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, menyatakan keprihatinannya terkait potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia menilai serangan militer yang dilakukan Israel dengan dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran berpotensi besar memicu perang kawasan. Situasi ini diperparah dengan serangan balasan Iran ke Israel dan pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk.

Mahfuz Sidik, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, menyoroti bahwa serangan balasan itu dapat menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik. Israel memiliki kepentingan besar untuk menghancurkan kekuatan militer dan pemerintahan Iran, dengan melibatkan negara-negara di kawasan tersebut. Hal ini menciptakan dinamika yang sangat berbahaya bagi stabilitas regional.

Konflik ini bermula dari serangan pendahuluan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat, yang secara gamblang didukung oleh AS. Mahfuz Sidik menegaskan bahwa pihak yang paling berkepentingan terhadap pecahnya perang ini adalah Israel, yang melihat Iran sebagai ancaman terbesar. Ini menjadi perhatian serius mengingat dampak luas yang mungkin terjadi.

Ancaman Eskalasi dan Keterlibatan Negara Teluk

Mahfuz Sidik berharap negara-negara di kawasan Teluk dapat menahan diri agar tidak terlibat langsung dalam perang ini. Menurutnya, dalam situasi apapun, Israel akan menjadi pihak yang diuntungkan dari konflik tersebut. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dari negara-negara Arab di Teluk.

Ia juga mengharapkan negara-negara di kawasan Teluk untuk mempertimbangkan kembali kerja sama perdamaian dengan Israel. Sejumlah negara Arab bahkan telah meminta AS untuk tidak menggunakan instalasi militernya di wilayah mereka guna menyerang Iran. Permintaan ini menunjukkan kekhawatiran mendalam akan potensi eskalasi konflik.

Iran, yang dianggap memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir, dipandang sebagai penghalang terbesar bagi ambisi zionis Israel. Ambisi ini, menurut Mahfuz, adalah mewujudkan Israel Raya (The Greater Israel), sebagaimana sering diungkapkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Konflik ini, oleh karena itu, memiliki akar yang dalam dan kompleks.

Sentimen Negatif dan Ambisi Zionis

Mahfuz Sidik menegaskan bahwa serangan Israel-AS terhadap Iran yang dilakukan pada bulan suci Ramadan akan memicu sentimen negatif yang luas di kalangan masyarakat muslim dunia. Tindakan ini menunjukkan tiadanya penghormatan Israel terhadap bulan suci umat Islam. Hal ini berpotensi memperburuk citra Israel dan AS di mata dunia.

Mantan Ketua Komisi I DPR periode 2010-2017 itu menilai bahwa Iran adalah negara dengan kekuatan militer terbesar yang tersisa di kawasan. Posisi Iran ini menjadikannya ancaman paling nyata bagi Israel. Oleh karena itu, Israel memiliki motif kuat untuk menghancurkan kekuatan tersebut.

Masyarakat dunia, menurut Mahfuz, tidak lagi melihat isu ini sekadar sebagai masalah senjata nuklir atau dukungan Iran terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Sebaliknya, masyarakat disuguhkan tontonan ambisi dan agresi zionis Israel, yang menjadikan perang sebagai jalan termudah untuk mencapai tujuannya.

Dampak pada Proposal Perdamaian AS dan Ketidakpercayaan Global

Mahfuz Sidik menilai serangan militer Israel-AS ke Iran akan memporak-porandakan proposal perdamaian Presiden AS Donald Trump di Gaza. Serangan ini dipastikan akan memperkuat penolakan masyarakat Palestina terhadap setiap inisiasi perdamaian yang melibatkan pihak Israel dan AS. Ini menciptakan hambatan besar bagi upaya resolusi konflik.

Ia juga berpendapat bahwa serangan tersebut bertabrakan dengan ide perdamaian dari Board of Peace (BoP) yang dipimpin Presiden Trump. Proposal perdamaian dan rekonstruksi Gaza seharusnya diikuti dengan pendekatan resolusi konflik di seluruh kawasan. Tidak logis memadamkan api di satu area, namun mengobarkan api di area lain dalam kawasan yang sama.

Situasi ini hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan (distrust) terhadap ide perdamaian yang diusung. Serangan ini juga mengentalkan sentimen negatif masyarakat dunia yang menginginkan perdamaian. Aksi penolakan yang menyeruak di berbagai belahan dunia terhadap agresi militer Israel di Gaza akan kembali hidup dipicu oleh serangan militer terhadap Iran.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi