Gencatan Senjata usai 12 Hari Digempur Iran, Israel Mulai Kehabisan Amunisi?

Pejabat AS membocorkan Israel mengalami kekurangan sejumlah senjata penting, terutama amunisi setelah 12 hari berperang melawan Iran.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Gencatan Senjata usai 12 Hari Digempur Iran, Israel Mulai Kehabisan Amunisi?
Kondisi sebuah bangunan yang hancur lebur setelah diserang rudal oleh Iran di sebuah kawasan di Tel Aviv, Israel, pada 22 Juni 2025. Potret kehancuran bangunan-bangunan di Israel, yang tercipta akibat perang 12 hari melawan Iran sebelum akhirnya tercapai kesepakatan gencatan senjata, mengingatkan dengan kondisi di Jalur Gaza yang sampai saat ini masih digempur oleh pasukan militer Zionis. (©Menahem Kahana/AFP)

Sejumlah pejabat AS tanpa menyebutkan nama membocorkan Israel mengalami kekurangan sejumlah senjata penting, terutama amunisi setelah 12 hari berperang melawan Iran.

Mengutip NBC News pada Selasa (25/6), Israel telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran sejak 13 Juni lalu dengan tuduhan bahwa Iran menjalankan program nuklir militer secara rahasia.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan "Operation True Promise 3" pada hari yang sama dan menghantam sejumlah target militer di Israel.

Iran sendiri membantah mengembangkan program nuklir untuk kepentingan militer. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengaku belum menemukan bukti nyata bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, menurut pernyataan Direktur Jenderal Rafael Grossi pada 18 Juni.

Di tengah ketegangan Iran-Israel, Amerika Serikat memperkeruh situasi dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni.

Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik militer AS di Qatar pada 23 Juni.

Malam harinya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah menyepakati gencatan senjata untuk mengakhiri perang selama 12 hari. Pada Selasa (25/6), dia menyatakan bahwa gencatan senjata di antara kedua negara telah resmi berlaku.

Mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Peter Ford, mengatakan kepada RIA Novosti bahwa ada kemungkinan besar gencatan senjata akan bertahan meskipun ada pelanggaran. Menurut dia, Israel kini kehabisan daya tempur dan lebih membutuhkan perdamaian dibanding Iran.

Rekomendasi