Langkah Mencegah Stroke Sejak Dini dengan Kebiasaan Sehat yang Mudah Diterapkan

Risiko stroke dapat dikurangi melalui pengendalian tekanan darah, pola makan sehat, aktivitas fisik, hingga pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Arini Nuranisa
Oleh Arini Nuranisa - Reporter
Langkah Mencegah Stroke Sejak Dini dengan Kebiasaan Sehat yang Mudah Diterapkan
Stroke Selalu Berujung Disabilitas atau Kematian, Dokter: Mitos! (Foto dibuat oleh AI). (@ 2025 merdeka.com)

Stroke menjadi salah satu penyakit yang sering muncul tanpa tanda peringatan yang jelas. Padahal, sebagian besar faktor pemicunya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup sebelum kerusakan pembuluh darah berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Tekanan darah tinggi menjadi penyebab utama yang paling sering dikaitkan dengan stroke. Selain itu, kadar gula darah, kolesterol, berat badan, kebiasaan merokok, kualitas tidur, hingga tingkat stres juga memengaruhi besarnya risiko seseorang mengalami stroke di kemudian hari.

Kabar baiknya, berbagai faktor tersebut dapat dikelola sejak usia muda. Dengan menerapkan kebiasaan sehat secara konsisten dan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, peluang terjadinya stroke dapat ditekan.

1. Jaga tekanan darah tetap stabil

Hipertensi merupakan faktor risiko terbesar terjadinya stroke. Sekitar tiga dari empat penderita stroke diketahui memiliki riwayat tekanan darah tinggi, sementara hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko stroke hingga empat sampai enam kali lipat.

Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting dalam pencegahan. Mengurangi konsumsi garam juga membantu menjaga tekanan darah tetap terkendali.

Asupan garam ideal tidak lebih dari 1.500 miligram per hari, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan batas maksimal 5 gram garam atau setara 2 gram natrium setiap hari.

Selain membatasi garam, olahraga teratur serta mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter bagi penderita hipertensi turut membantu menurunkan risiko stroke.

2. Berhenti merokok serta kontrol gula darah dan kolesterol

Merokok dapat merusak pembuluh darah karena nikotin dan berbagai zat kimia di dalam rokok membuat sel darah lebih mudah menggumpal. Perokok aktif memiliki risiko stroke sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok.

Berhenti merokok memberikan manfaat secara bertahap. Setelah 2–4 tahun berhenti, risiko stroke mulai menurun, dan dalam waktu sekitar lima tahun risikonya dapat mendekati orang yang tidak pernah merokok.

Selain rokok, kadar gula darah yang tinggi dapat mempercepat kerusakan dinding arteri. Penderita diabetes memiliki risiko stroke hingga dua kali lipat. Kolesterol tinggi juga dapat menyebabkan aterosklerosis atau penumpukan plak yang menyumbat pembuluh darah.

Oleh karena itu, pemeriksaan gula darah dan kolesterol secara berkala serta penggunaan obat sesuai resep dokter bila diperlukan menjadi bagian penting dalam pencegahan.

3. Pilih pola makan yang lebih sehat

Pola makan berperan besar dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung. Pendekatan seperti diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) maupun Diet Mediterania dapat menjadi pilihan untuk membantu mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol.

Perbanyak konsumsi sayuran hijau, buah-buahan kaya antioksidan seperti beri, apel, dan jeruk, biji-bijian utuh, serta sumber protein rendah lemak. Ikan berlemak, seperti salmon, tuna segar, dan makarel, juga dianjurkan karena mengandung asam lemak omega-3 yang membantu menjaga aliran darah dan mengurangi peradangan.

Sebaliknya, batasi makanan olahan tinggi garam, gorengan, lemak trans, daging merah, kuning telur, makanan tinggi gula, serta minuman manis dan berkarbonasi. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan dengan mengonsumsi sekitar 7–8 gelas air putih setiap hari.

4. Biasakan aktif bergerak setiap hari

Aktivitas fisik membantu mengendalikan berbagai faktor risiko stroke, mulai dari hipertensi hingga diabetes dan kolesterol tinggi.

Olahraga selama sekitar 30 menit setiap hari atau lima kali dalam seminggu diketahui dapat menurunkan risiko stroke hingga 25 persen.

Tidak harus melakukan olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda, maupun berenang sudah dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung sekaligus membantu mempertahankan berat badan ideal.

5. Pertahankan berat badan ideal, kelola stres, dan tidur yang cukup

Kelebihan berat badan maupun obesitas dapat meningkatkan risiko stroke hingga 22 persen karena berkaitan dengan tekanan darah tinggi, diabetes, dan kadar kolesterol yang meningkat.

Konsumsi alkohol juga perlu dibatasi karena dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu gangguan irama jantung atau fibrilasi atrium. Mengonsumsi satu hingga dua gelas alkohol setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 10–15 persen, dan risikonya bertambah seiring meningkatnya jumlah konsumsi.

Di sisi lain, stres berkepanjangan dapat meningkatkan pelepasan hormon kortisol dan adrenalin yang memicu kenaikan tekanan darah, gula darah, serta penyempitan pembuluh darah. Aktivitas seperti meditasi, yoga, maupun melakukan hobi dapat membantu mengelola stres.

Tidur yang cukup juga tidak kalah penting karena gangguan tidur, seperti sleep apnea, insomnia, rasa kantuk berlebihan, maupun kebiasaan tidur lebih dari sembilan jam sehari, sama-sama dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke.

6. Lakukan pemeriksaan

Rekomendasi