Strength training kini menjadi bagian penting dalam program latihan bagi pelari, baik yang baru mulai berlari maupun yang telah berpengalaman. Latihan ini tidak hanya bertujuan membentuk otot, tetapi juga membantu tubuh menghadapi beban saat berlari sehingga gerakan menjadi lebih efisien dan risiko cedera dapat dikurangi.
Selama ini, peningkatan jarak tempuh dan frekuensi latihan sering dianggap cukup untuk meningkatkan performa. Padahal, latihan kekuatan berperan sebagai fondasi yang mendukung stabilitas sendi, keseimbangan tubuh, hingga kemampuan menghasilkan tenaga pada setiap langkah.
Berbagai pelatih olahraga dan lembaga kesehatan juga merekomendasikan strength training sebagai bagian dari rutinitas mingguan. Dengan program yang sesuai, pelari dapat meningkatkan kualitas latihan sekaligus menjaga kebugaran dalam jangka panjang.
Advertisement
Menurut National Academy of Sports Medicine (NASM), latihan lari sebaiknya dipadukan dengan strength training agar tubuh memiliki kekuatan yang memadai untuk menopang aktivitas berlari.
Selain memberikan manfaat umum seperti membantu menjaga kepadatan tulang, memperbaiki komposisi tubuh, mengontrol tekanan darah, dan menurunkan risiko penyakit kronis, latihan kekuatan juga meningkatkan teknik berlari, daya tahan otot, serta membantu mengurangi risiko cedera akibat penggunaan otot secara berulang (overuse).
NASM mengutip penelitian van der Worp dan kolega yang menunjukkan bahwa hampir 80 persen cedera pada pelari berkaitan dengan overuse injury. Karena itu, memperkuat kelompok otot yang kurang aktif menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan tubuh selama berlari.
Pendapat serupa disampaikan oleh Kate Baird, MA, ACSM-CEP, CSCS, yang menjelaskan bahwa strength training membantu memperkuat sekaligus menstabilkan sendi sehingga pola gerak menjadi lebih baik. Dengan kekuatan otot yang lebih merata, tubuh dapat mengurangi kompensasi gerakan yang sering memicu cedera.
Advertisement
Mengurangi risiko cedera
Saat berlari, kedua kaki menerima benturan berulang dengan beban yang dapat mencapai lebih dari dua kali berat badan pada setiap langkah.
Menurut Complete Physio, otot yang kuat membantu meredam benturan sehingga tekanan pada sendi menjadi lebih kecil. Latihan kekuatan juga membantu mengurangi ketidakseimbangan otot yang dapat memicu shin splints, nyeri lutut, cedera tendon, maupun stress fracture.
Membuat lari lebih efisien
Strength training meningkatkan kemampuan otot menghasilkan gaya dorong saat kaki menyentuh permukaan tanah.
Complete Physio menjelaskan bahwa peningkatan gaya terhadap permukaan membuat pelari bergerak lebih efisien dengan penggunaan energi yang lebih hemat. Dampaknya, kecepatan dapat dipertahankan lebih lama tanpa cepat mengalami kelelahan.
Memperbaiki teknik berlari
Latihan kekuatan juga meningkatkan koordinasi, keseimbangan, dan kontrol tubuh.
NASM menjelaskan bahwa kombinasi strength training dan latihan fleksibilitas membantu mengaktifkan otot yang sebelumnya kurang bekerja sehingga gerakan tubuh menjadi lebih sinkron. Hal ini penting untuk menjaga teknik berlari, terutama ketika tubuh mulai lelah.
Menjaga stabilitas sendi
Otot yang lebih kuat di sekitar pinggul, lutut, dan pergelangan kaki membantu mempertahankan posisi tubuh saat mendarat maupun melakukan tolakan.
Stabilitas tersebut membuat gerakan menjadi lebih efisien sekaligus membantu mengurangi risiko cedera akibat beban berulang.
Mendukung peningkatan kecepatan
Masih ada anggapan bahwa latihan beban akan membuat tubuh menjadi terlalu besar sehingga memperlambat pelari.
Namun, NASM menjelaskan bahwa latihan kekuatan sekitar dua kali dalam seminggu tidak membuat tubuh menjadi bulky. Sebaliknya, resistance training yang dilakukan secara konsisten membantu meningkatkan massa otot tanpa lemak, memperbaiki efisiensi gerak, dan berpotensi meningkatkan kecepatan lari.
Advertisement
Pedoman aktivitas fisik di Amerika Serikat yang dikutip NASM dan Hospital for Special Surgery (HSS) menyarankan latihan penguatan otot dilakukan minimal dua kali setiap minggu.
Setiap sesi tidak harus berlangsung lama. Latihan sekitar 15–20 menit sudah dapat memberikan manfaat apabila dilakukan secara konsisten.
Pelari yang sedang mempersiapkan maraton masih dapat menjalani strength training hingga tiga kali seminggu pada fase awal program latihan. Ketika volume lari meningkat menjelang perlombaan, frekuensinya sebaiknya dikurangi agar pemulihan tubuh tetap optimal.
Para ahli juga menyarankan agar latihan kekuatan tidak dilakukan terlalu berat sebelum sesi long run, hill training, maupun speed workout karena latihan tersebut membutuhkan cadangan energi yang lebih besar.
Advertisement
Menurut HSS, strength training sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Tahap awal dimulai dengan stabilization endurance, yaitu latihan yang menekankan keseimbangan, koordinasi, dan stabilitas melalui gerakan lambat serta terkontrol. Contohnya meliputi single-leg deadlift, lunge to knee lift, dan overhead march.
Tahap berikutnya adalah strength endurance, yang mengombinasikan latihan kekuatan dan keseimbangan menggunakan metode superset. Contohnya dumbbell squat dipadukan dengan lunge to balance, atau bench press yang dilanjutkan push-up.
Setelah fondasi kekuatan terbentuk, latihan dapat dilanjutkan ke fase muscular development (hypertrophy) menggunakan beban yang lebih berat untuk meningkatkan kekuatan otot.
Tahap selanjutnya adalah maximal strength, yaitu latihan dengan beban tinggi melalui gerakan multi-sendi seperti squat, deadlift, lunge, dan row. Setelah itu, pelari dapat menambahkan latihan pliometrik seperti jump squat, skipping, maupun skater hop untuk meningkatkan daya ledak dan kecepatan.
Advertisement
NASM merekomendasikan agar latihan kekuatan pelari mencakup pola gerak dasar berikut:
- Push
- Pull
- Squat
- Lunge
- Hinge
- Rotation
Selain itu, latihan gerakan ke samping seperti side lunge juga dianjurkan agar tubuh terbiasa bergerak dalam berbagai arah, bukan hanya gerakan maju seperti saat berlari.
Advertisement
Bagi yang baru mulai mencoba strength training, latihan dapat diawali menggunakan berat badan sendiri tanpa beban tambahan.
Fokuslah terlebih dahulu pada teknik gerakan yang benar, kemudian tingkatkan intensitas secara bertahap seiring kemampuan tubuh beradaptasi.
Pemulihan juga perlu diperhatikan. Jika tubuh masih terasa sangat pegal atau performa lari menurun, kurangi intensitas latihan kekuatan untuk sementara waktu. Tujuan strength training adalah mendukung latihan lari, bukan menghambat proses pemulihan.
Dengan latihan yang dilakukan secara konsisten, dua sesi strength training setiap minggu sudah dapat memberikan manfaat untuk membantu meningkatkan performa sekaligus mengurangi risiko cedera saat berlari.