Trump Tunda Serangan Terhadap Infrastruktur Energi Iran, Klaim Diplomasi Dilakukan Sangat Produktif
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa serangan militer terhadap Iran ditunda untuk sementara waktu.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa serangan militer terhadap Iran akan ditunda untuk sementara waktu. Kebijakan ini berlaku selama lima hari dan berfokus pada penghentian serangan ditujukan kepada pembangkit listrik serta infrastruktur energi di negara tersebut.
Trump mengklaim keputusan membatalkan serangan ini diambil setelah adanya komunikasi intens antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir. Trump menyatakan bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan perkembangan positif.
"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan negara Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, Selasa (24/3), sebagaimana dilansir dari Antara.
Dia menjelaskan bahwa keputusan untuk menunda serangan ini didasarkan pada dialog yang dianggap konstruktif dan akan terus berlanjut. Dia menambahkan bahwa berdasarkan nada dan isi percakapan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu, dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Penundaan Serangan Bersifat Sementara
Trump juga menegaskan bahwa penundaan tersebut bersifat sementara dan sangat bergantung pada hasil pertemuan serta diskusi lanjutan antara kedua pihak. Penundaan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan ini telah menyebabkan banyak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan penerbangan. Sumber: Anadolu