Trump Minta Iran Akui Kekalahan, Jika Tidak AS Bakal Serang Lebih Dahsyat
Jika Iran tidak mengakui telah kalah secara militer, maka Trump siap mengambil langkah yang lebih keras.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut masih membuka peluang penyelesaian damai dengan Iran, namun ia siap meningkatkan eskalasi jika Teheran tidak menerima realitas situasi saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt, Rabu, (25/3/2026). Sebagaimana dikutip Middle East Monitor, Kamis (26/3/2026).
Ia mengatakan Washington telah menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran setelah berlangsungnya “pembicaraan” dalam tiga hari terakhir.
Namun, Leavitt menegaskan bahwa jika Iran tidak mengakui telah kalah secara militer, maka Trump siap mengambil langkah yang lebih keras.
“Presiden tidak menggertak. Ia siap melakukan tindakan yang jauh lebih besar,” ujar Leavitt.
Menurutnya, kesalahan sebelumnya telah membuat Iran kehilangan sejumlah elemen penting, termasuk kepemimpinan militer, angkatan laut, angkatan udara, serta sistem pertahanan udaranya.
Ia menambahkan, setiap eskalasi lanjutan akan terjadi jika Iran menolak menerima situasi dan enggan mencapai kesepakatan.
Tak Perlu Minta Persetujuan Kongres Serang Iran
Leavitt juga menyatakan pemerintah AS tidak menganggap perlu persetujuan Kongres untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Ia mengakui belum ada kepastian kapan kapal tanker minyak pertama bisa kembali melintas di Selat Hormuz, meski upaya pembukaan jalur tersebut terus dilakukan secepat mungkin.
Ia mengklaim AS telah menghancurkan lebih dari 140 kapal militer Iran, termasuk hampir 50 kapal penebar ranjau, dalam operasi yang disebutnya sebagai penghancuran terbesar armada laut dalam kurun tiga minggu sejak World War II.
Selain itu, pada akhir pekan lalu, AS disebut menjatuhkan bom seberat 5.000 pon ke fasilitas bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan rudal jelajah anti-kapal dan peluncur rudal bergerak di sepanjang pesisir Selat Hormuz.
Leavitt menambahkan, Trump menginginkan kepemimpinan Iran yang “lebih bersahabat” dengan Washington, bersedia bekerja sama, dan tidak lagi mengusung slogan anti-Amerika.