Trump: Kami Ingin Bicara dengan Iran, Tapi Semua Pemimpinnya Sudah Tidak Ada
Saat ini diklaimnya tidak ada pihak yang bisa diajak berbicara setelah rangkaian serangan AS–Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya ingin membuka jalur dialog dengan Iran.
Namun, ia mengklaim saat ini tidak ada pihak yang bisa diajak berbicara setelah rangkaian serangan AS–Israel yang disebutnya melumpuhkan kepemimpinan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri acara penyerahan trofi di Gedung Putih, Jumat waktu setempat.
“Kami kesulitan. Kami ingin berbicara dengan mereka, tapi tidak ada yang bisa diajak bicara. Kami tidak punya siapa pun untuk diajak bicara. Dan, jujur saja, kami menyukainya seperti itu,” ujar Trump dikutip Middle East Monitor, Sabtu (21/3/2026).
Ia juga sesumber bahwa kekuatan militer Iran telah hancur akibat serangan yang dilakukan dalam beberapa pekan terakhir.
“Angkatan laut mereka sudah tidak ada. Angkatan udara mereka sudah tidak ada. Sistem pertahanan udara mereka hilang. Radar mereka hilang. Para pemimpin mereka juga sudah tidak ada,” kata Trump.
“Sekarang, tidak ada lagi yang mau menjadi pemimpin di sana,” tambahnya.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa tujuan utama Washington tetap sama, yakni mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
“Kami tidak akan membiarkan mereka memiliki senjata nuklir. Jika mereka memilikinya, mereka akan menggunakannya,” ujarnya.
Kemenangan yang Signifikan
Dalam kesempatan itu, Trump menyebut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berada di ruang situasi Gedung Putih saat acara berlangsung.
Menurutnya, Hegseth sebenarnya memiliki pilihan untuk hadir, namun memilih tetap memantau perkembangan situasi dari pusat kendali.
Trump juga mengklaim pasukan AS berhasil meraih kemenangan signifikan di medan perang, termasuk menghancurkan kekuatan laut Iran dalam waktu singkat.
“Mereka masih punya angkatan laut dua minggu lalu. Sekarang sudah tidak ada. Semuanya berada di dasar laut, 58 kapal dihancurkan hanya dalam dua hari,” katanya.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei, pejabat senior Ali Larijani, serta lebih dari 150 anak dalam serangan di sebuah sekolah dasar perempuan.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta aset-aset yang disebut terkait dengan Amerika Serikat di berbagai titik di kawasan, sehingga semakin memperburuk eskalasi konflik.