Mengapa AS dan Israel Serang Iran? Ini 5 Alasan Utama di Balik Operasi Militer hingga Tewaskan Ayatollah Ali Khamenei
AS dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran yang menewaskan Khamenei. Trump menyebut operasi itu untuk mencegah nuklir Iran dan melindungi sekutu.
Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan brutal terhadap Iran dalam beberapa dekade terakhir pada Sabtu, (28/2/2026).
Tak tanggung-tanggung, operasi militer itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Mengutip Reuters, Senin (2/3/2026), Trump tidak menyampaikan argumentasi detail kepada publik sebelum operasi dimulai. Ia hanya menyinggung rencana itu dalam pidato kenegaraan pekan lalu.
Lantas, mengapa AS dan Israel begitu membabi buta menyerang Iran? Berikut fakta-fakta mengapa AS dan Israel kompak menyerang Iran.
Mencegah Iran Punya Senjata Nuklir
Trump berulang kali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia mengklaim serangan sebelumnya pada Juni lalu telah “menghancurkan” program nuklir Iran, namun menyebut Teheran berusaha membangunnya kembali.
“Bayangkan betapa beraninya rezim ini jika mereka benar-benar memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
AS dan Israel sebelumnya menyatakan Iran terlalu dekat dengan kemampuan memproduksi senjata nuklir.
Namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan intelijen AS menilai Iran telah menghentikan program pengembangan senjata nuklir sejak 2003.
Iran sendiri membantah pernah mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan haknya memperkaya uranium untuk tujuan sipil sebagai anggota Traktat Non-Proliferasi.
Negara Barat menilai tidak ada alasan sipil kredibel untuk tingkat pengayaan uranium Iran saat ini, dan IAEA menyebut hal tersebut sebagai kekhawatiran serius.
Membendung Program Rudal Iran
Dalam pidato kenegaraan pada Sabtu, (28/2/2026), Trump menyebut program rudal Iran sebagai ancaman bagi Amerika Serikat.
Ia menuduh Iran mengembangkan rudal jarak jauh yang bisa mengancam sekutu di Eropa, pasukan AS di luar negeri, bahkan wilayah Amerika sendiri. Namun ia tidak memberikan bukti rinci atas klaim tersebut.
Media pemerintah Iran sebelumnya menyebut Teheran tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau AS.
Menghilangkan Ancaman terhadap Warga AS dan Sekutu
Trump mengatakan serangan dilakukan untuk melindungi rakyat AS dari ancaman langsung Iran dan kelompok proksi yang didukungnya.
Ia menyinggung sejumlah peristiwa, termasuk krisis sandera Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979, serangan bom barak Marinir AS di Beirut tahun 1983, serta berbagai serangan terhadap pasukan AS dan jalur pelayaran internasional di Timur Tengah.
Trump juga menyoroti dukungan Iran terhadap Hamas, yang melakukan serangan lintas batas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Isu Penindasan Demonstran
Dalam pidato kenegaraan, Trump menuduh Iran menewaskan sedikitnya 32.000 demonstran dalam beberapa bulan terakhir, angka yang belum terverifikasi.
Kelompok pemantau HAM Iran, HRANA, melaporkan 7.007 kematian terkonfirmasi dan 11.744 kasus masih ditinjau.
Sementara pejabat Iran menyebut sedikitnya 5.000 orang tewas, termasuk sekitar 500 aparat keamanan.
Seruan Perubahan Rezim
Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk bangkit menggulingkan pemerintah mereka.
“Wahai rakyat Iran yang bangga, ambil alih pemerintahan kalian,” kata Trump. “Ini mungkin kesempatan satu-satunya dalam beberapa generasi," lanjutnya.
Trump, yang memantau operasi dari resor Mar-a-Lago di Florida, kemudian mengumumkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan kompleks Khamenei telah dihancurkan.
Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian pemimpin tertinggi tersebut.
Meski menyerukan perubahan rezim, Trump memperingatkan bahwa pengeboman akan terus berlanjut “selama diperlukan” demi mencapai tujuan “perdamaian di Timur Tengah dan dunia.”