Pejabat AS Sebut Trump Ogah Lanjutkan Serangan ke Iran, Klaim Ingin Perdamaian
Trump dikatakan sempat menghubungi Benjamin Netanyahu sesaat setelah serangan dan memberitahukan hasilnya. Namun kini, dia memutuskan bicara soal perdamaian.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tidak ingin melanjutkan serangan terhadap Iran, menurut seorang pejabat Amerika. Tak hanya itu, pejabat itu juga mengklaim Trump sedang berpiki mengupayakan kesepakatan damai dengan Iran setelah sebelumnya membantu Israel dengan menyerang fasilitas nuklir Iran. lapor Axios, Minggu (22/6), mengutip seorang pejabat Amerika.
Dikutip dari Antara, Senin (23/6), media Axios melaporkan, Trump dikatakan sempat menghubungi Benjamin Netanyahu sesaat setelah serangan dan memberitahukan hasilnya. Namun kini, dia memutuskan membicarakan kesepakatan damai dengan Iran.
"Presiden tidak ingin melanjutkan serangan. Ia siap jika Iran melakukan serangan balasan, tetapi ia sudah menyampaikan kepada Netanyahu bahwa ia menginginkan perdamaian,” kata pejabat tersebut.
Seorang pejabat Israel juga mengonfirmasi sikap Trump, "Amerika sudah menyampaikan dengan jelas bahwa mereka ingin mengakhiri putaran ini. Mereka tidak keberatan jika kami melanjutkan serangan, tapi untuk mereka, sudah cukup.”
Seperti diketahui, Israel dilaporkan telah menghancurkan beberapa sistem pertahanan udara Iran dalam waktu 48 jam sebelum serangan AS, atas permintaan Amerika, menurut pejabat Israel dan Amerika.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa AS memberikan daftar sistem pertahanan Iran yang harus dilumpuhkan sebelum menyerang fasilitas nuklir Fordow.
AS menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan enam bom penembus bunker (bunker-buster) yang dijatuhkan ke fasilitas Fordow dengan pesawat siluman B-2, serta meluncurkan puluhan rudal jelajah dari kapal selam ke fasilitas di Natanz dan Isfahan.
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, mengatakan lebih dari 125 pesawat AS terlibat dalam misi tersebut, termasuk pesawat pengebom siluman, jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, kapal selam peluncur rudal, dan pesawat pengintai.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran itu “sangat sukses”.
Ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv pecah sejak 13 Juni 2025, ketika Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menargetkan fasilitas militer dan nuklir. Iran merespons dengan serangan balasan.
Pihak berwenang Israel melaporkan sedikitnya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan rudal Iran. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan 430 orang meninggal dunia dan lebih dari 3.500 orang terluka akibat serangan Israel.