Sekitar 140 tentara Amerika Serikat (AS) mengalami luka-luka dalam konflik yang terjadi di Iran. Hal ini disampaikan oleh juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, pada Selasa (10/3).
"Sejak dimulainya Operasi Epic Fury, sekitar 140 anggota militer AS telah terluka selama 10 hari serangan yang terus berlangsung," kata Parnell seperti yang dilansir oleh TRT.
Operasi Epic Fury sendiri merupakan nama sandi untuk misi militer besar yang dilaksanakan oleh AS bersama Israel terhadap Iran sejak tanggal 28 Februari.
Parnell juga menambahkan bahwa ada delapan prajurit yang mengalami cedera parah dan saat ini sedang mendapatkan perawatan medis yang optimal. Namun, hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai jenis luka yang dialami oleh para prajurit tersebut, termasuk apakah cedera yang dialami termasuk cedera otak traumatis yang sering terjadi akibat ledakan.
Sejak dimulainya operasi ini, Iran telah melancarkan serangan balasan yang agresif terhadap setidaknya 27 pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Serangan ini juga berdampak pada misi diplomatik, bandara, hotel, dan infrastruktur minyak yang sangat penting.
Data mengenai jumlah korban luka yang diumumkan oleh Pentagon ini memberikan gambaran awal tentang dampak yang lebih luas terhadap pasukan AS setelah serangkaian serangan balasan dari Iran menggunakan roket dan drone. Dengan situasi yang terus berkembang, perhatian dunia kini tertuju pada bagaimana kedua belah pihak akan merespons langkah-langkah selanjutnya dalam konflik ini.
Advertisement
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, menyatakan bahwa Iran tidak sekuat yang diperkirakan saat militer AS merencanakan strategi perang.
"Saya pikir mereka memang bertempur dan saya menghormati itu, tetapi saya tidak berpikir mereka lebih tangguh dari yang kami perkirakan," ungkap Caine dalam sebuah pengarahan kepada wartawan di Pentagon pada hari Selasa.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa hari Selasa akan menjadi momen dengan intensitas serangan tertinggi dari pihak AS di wilayah Iran.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menolak tawaran gencatan senjata. Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, juga menyatakan di platform X bahwa "Iran tidak takut pada ancaman kosong Anda (Trump)."
Dalam situasi ini, Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa jika Iran telah menempatkan ranjau di Selat Hormuz, maka ranjau tersebut harus segera dihapus. Ia menekankan bahwa jika ranjau tidak segera dibersihkan, Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya.