Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Dipicu Ancaman Donald Trump Bakal Serang Iran
Meskipun Trump telah mengancam akan menyerang Iran jika negara tersebut membunuh para demonstran selama kerusuhan
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan yang berlangsung pada Rabu (28/1). Kenaikan ini dipicu oleh peringatan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan bahwa 'armada besar' sedang bergerak menuju Iran dan waktu untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir hampir habis.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari CNBC pada Kamis (29/1), harga minyak Brent meningkat sebesar 83 sen atau 1,23 persen, menjadi USD 68,40 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami kenaikan sebesar 82 sen atau 1,31 persen, ditutup pada level USD 63,21.
Trump menekankan dalam sebuah unggahan di media sosialnya, Truth Social, bahwa armada besar sedang menuju ke Iran. Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar.
Pada hari Senin, Komando Pusat AS mengumumkan bahwa Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln telah tiba di Timur Tengah untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional.
Meskipun Trump telah mengancam akan menyerang Iran jika negara tersebut membunuh para demonstran selama kerusuhan yang terjadi awal bulan ini, sejauh ini ia masih menahan diri dari langkah intervensi militer.
Trump juga menyebutkan bahwa armada yang dikerahkan ke Timur Tengah lebih besar dibandingkan dengan pasukan yang diperintahkan ke Karibia sebelum penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
"Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu," ungkap Trump mengenai kelompok serang kapal induk dalam unggahan di media sosialnya pada Selasa.
Ia mendesak Teheran untuk segera mencapai kesepakatan mengenai program nuklir, dengan peringatan bahwa "Waktu hampir habis, ini benar-benar penting! Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUAT KESEPAKATAN!"
Presiden AS tersebut juga memperingatkan bahwa kemungkinan serangan yang akan datang akan jauh lebih parah dibandingkan dengan kampanye pengeboman yang ia perintahkan pada bulan Juni lalu terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi," tegasnya.
Dengan situasi yang semakin memanas, perkembangan harga minyak dan ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian utama bagi pasar global.
Harga Minyak Dunia Kemarin
Harga minyak mengalami kenaikan sekitar 3 persen pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta) akibat dampak badai musim dingin yang mengganggu produksi minyak mentah. Hal ini mengakibatkan ekspor minyak mentah dari Pantai Teluk Amerika Serikat (AS) terhenti pada akhir pekan lalu.
Menurut laporan dari CNBC pada Rabu (28/1), harga minyak Brent meningkat sebesar USD 1,98, atau setara dengan 3,02 persen, dan ditutup pada level USD 67,57 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan, yaitu sebesar USD 1,76 atau 2,9 persen, sehingga ditutup pada harga USD 62,39 per barel.
Para analis dan pedagang memperkirakan bahwa badai musim dingin yang melanda AS menyebabkan produsen minyak kehilangan produksi hingga 2 juta barel per hari, yang setara dengan sekitar 15 persen dari total produksi nasional.
Kondisi ini memberikan tekanan besar pada infrastruktur energi dan jaringan listrik negara tersebut. Dengan adanya gangguan ini, pasar minyak global kemungkinan akan terus berfluktuasi, tergantung pada seberapa cepat pemulihan produksi dapat dilakukan.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya sektor energi terhadap perubahan cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi pasokan dan harga secara signifikan.