Harga Minyak Global Sentuh USD 126, Tertinggi dalam 4 Tahun Terakhir
Harga minyak Brent, yang menjadi acuan harga minyak internasional, telah mencapai USD 126 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan antara AS dan Iran.
Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan hari Kamis, dengan harga Brent crude mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang berpotensi memicu konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan dari Axios, militer Amerika Serikat dijadwalkan untuk memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi tindakan terhadap Iran. Informasi ini berasal dari dua sumber yang mengetahui tentang rencana tersebut.
Kabar ini langsung menimbulkan kekhawatiran di pasar global, terutama terkait dengan kemungkinan terganggunya pasokan energi dunia. Situasi ini semakin diperburuk oleh kebijakan blokade Amerika yang terus berlanjut terhadap ekspor minyak Iran.
Dikutip dari CNBC pada hari Kamis (30/4), untuk kontrak bulan Juni, harga Brent mengalami lonjakan sebesar 6,84% menjadi USD 126,10 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 3,14% mencapai level USD 110,24 per barel.
Data dari LSEG menunjukkan bahwa harga Brent kini berada di level tertinggi sejak awal tahun 2022. Kenaikan ini mencerminkan tekanan yang besar pada pasokan minyak global akibat konflik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Jalur Vital Pasokan
Salah satu penyebab utama lonjakan harga minyak adalah terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik kritis dalam perdagangan minyak dunia. Menurut Goldman Sachs, saat ini ekspor minyak melalui Selat Hormuz hanya mencapai sekitar 4% dari kapasitas normal.
Hal ini disebabkan oleh blokade yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Iran serta terhentinya negosiasi nuklir antara kedua negara. Di samping itu, keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak di Iran dapat memperburuk gangguan pasokan jika blokade terus berlanjut. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar terkait ketersediaan minyak dalam waktu dekat.
Di sisi lain, meskipun Uni Emirat Arab telah meningkatkan produksinya setelah keluar dari OPEC, hal ini diperkirakan tidak akan cukup cepat untuk mengatasi kekurangan pasokan dalam waktu dekat. Dengan kata lain, tekanan terhadap harga minyak masih akan terus berlanjut.
Situasi ini menciptakan ketidakpastian di pasar energi global, yang dapat berdampak pada perekonomian berbagai negara yang bergantung pada pasokan minyak. Oleh karena itu, penting untuk memantau perkembangan lebih lanjut terkait situasi di Selat Hormuz dan kebijakan yang diambil oleh negara-negara terkait.
Pernyataan Trump Pengaruhi Sentimen Pasar
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas mengenai Iran melalui platform Truth Social. "Iran tidak bisa berbenah. Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka harus segera bersikap lebih cerdas!" ungkap Trump.
Pernyataan tersebut dilengkapi dengan gambar berbasis AI yang memperlihatkan Trump di tengah latar belakang ledakan, disertai tulisan "TIDAK ADA LAGI SIKAP BAIK!", yang semakin memperburuk sentimen negatif di pasar.
Menurut Bill Perkins, Chief Investment Officer Skylar Capital Management, pergerakan harga minyak saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor-faktor fisik, geopolitik, serta psikologi para investor. Ia menyatakan bahwa pelaku pasar saat ini terus memantau pergerakan kapal tanker dan sinyal politik dari kedua negara.
"Kami masih cukup jauh dari kesepakatan, dan mungkin diperlukan eskalasi konflik atau waktu tambahan untuk membuka kembali Selat Hormuz," jelas Perkins.
Harga Perpotensi Capai USD 150
Di masa mendatang, harga minyak berpotensi untuk terus naik jika masalah pasokan tidak segera diatasi. Bill Perkins memprediksi bahwa harga minyak dapat melonjak hingga mencapai rentang USD 140 hingga USD 150 per barel. Namun, ia juga mengingatkan bahwa harga yang terlalu tinggi pada akhirnya bisa mengurangi permintaan global.
Sementara itu, Goldman Sachs mencatat adanya risiko penurunan permintaan minyak di seluruh dunia. Konsumsi global pada bulan April diperkirakan akan turun sekitar 3,6 juta barel per hari dibandingkan dengan bulan Februari. Penurunan ini terutama terjadi pada sektor bahan bakar jet dan bahan baku petrokimia.
Meskipun cadangan strategis dan pasokan yang masih dalam perjalanan sempat menahan lonjakan harga, tekanan pada pasar produk tetap tinggi. Harga diesel dilaporkan meningkat tajam dan masalah logistik masih terjadi, bahkan jika gencatan senjata berhasil dicapai.