Harga Minyak Dunia Tembus USD 107 karena Ketegangan Iran‑Saudi dan Qatar
Kenaikan harga minyak mencapai USD 107 disebabkan oleh ancaman Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak dunia mengalami lonjakan hampir 4% pada perdagangan hari Rabu, disebabkan oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang berpotensi mengancam infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Mengacu pada laporan dari CNBC pada Kamis (19/3), harga minyak Brent, yang menjadi acuan global, mengalami kenaikan sebesar 3,83% atau setara dengan USD 3,96, dan ditutup pada level USD 107,38 per barel.
Di sisi lain, harga minyak AS (WTI) tetap stabil di angka USD 96,32 per barel. Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan gangguan pasokan minyak global yang semakin meningkat.
Laporan-laporan media mengungkapkan bahwa Israel telah melakukan serangan terhadap fasilitas pemrosesan gas terbesar Iran yang terletak di Provinsi Bushehr. Ketegangan ini memperburuk situasi geopolitik yang sudah ada, dan menambah kekhawatiran investor mengenai stabilitas pasokan energi di seluruh dunia.
Ancaman Iran
Pada hari Rabu, Iran mengeluarkan ancaman untuk menyerang fasilitas minyak yang ada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar. Pasukan Garda Revolusi Iran bahkan memberikan peringatan kepada masyarakat untuk menjauhi sejumlah fasilitas yang mereka sebut sebagai "target sah dan utama."
Fasilitas yang dimaksud mencakup kilang Samref dan kompleks petrokimia Al-Jubail di Arab Saudi, ladang gas Al Hosn di UEA, serta kompleks petrokimia Mesaieed di Qatar. Ancaman ini muncul setelah Iran sebelumnya melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi di UEA pada awal pekan ini. Jika serangan ini meluas, gangguan pasokan minyak global bisa menjadi semakin parah, terutama mengingat lalu lintas tanker di Selat Hormuz sudah mengalami penurunan yang signifikan.
Potensi Harga Minyak Sentuh USD 130
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa peningkatan harga minyak akan memicu inflasi dalam waktu dekat. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa dampak jangka panjang terhadap perekonomian Amerika Serikat masih belum dapat dipastikan.
Di sisi lain, bank investasi Citi memperkirakan bahwa harga minyak Brent bisa melonjak hingga USD 120 per barel dalam waktu dekat. Citi juga memproyeksikan bahwa gangguan pasokan dapat mencapai antara 11 hingga 16 juta barel per hari hingga bulan April mendatang.
Lebih jauh lagi, harga minyak diperkirakan dapat rata-rata mencapai USD 130 per barel pada kuartal kedua dan ketiga, terutama jika serangan terhadap infrastruktur energi semakin meluas dan Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu yang lama. "Pasar kemungkinan akan terus menguat hingga menemukan harga atau peristiwa yang mendorong AS mengakhiri operasi militernya," ungkap analis Citi.
UU Mengatur Pengangkutan Barang di AS
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan darurat yang memberikan pengecualian sementara terhadap Jones Act selama dua bulan. Aturan ini sebelumnya mengharuskan pengiriman barang antar pelabuhan domestik di Amerika Serikat dilakukan dengan menggunakan kapal berbendera Amerika.
Dengan adanya pengecualian ini, kapal asing diperbolehkan untuk mengangkut minyak dan energi, yang diharapkan dapat menekan biaya distribusi serta meredam kenaikan harga bahan bakar.
Keputusan ini diambil sebagai upaya untuk menghadapi tantangan yang muncul dalam sektor energi. Dengan memperbolehkan kapal asing beroperasi, diharapkan pasokan energi dapat lebih cepat dan efisien. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian yang sedang berjuang untuk pulih dari dampak pandemi.