Ladang gas South Pars, salah satu cadangan gas alam terbesar di dunia diserang rudal Amerika Serikat (AS)-Israel. Peristiwa itu membuat Iran meradang.
Kini, Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan ke Saudi Arabia, Qatar, dan Uni Emirat Arab agar segera melakukan evakuasi terhadap fasilitas petrokimia mereka. Peringatan ini muncul seiring dengan ancaman serangan yang dianggap dapat terjadi dalam waktu dekat. Hal ini dikutip dari laman Middleeasteye pada Kamis (19/3).
Dalam peringatan itu, Iran menyebutkan beberapa fasilitas energi di negara-negara Teluk sebagai sasaran potensial serangan, seperti Kilang Samref dan Kompleks Petrokimia Jubail di Arab Saudi, serta Ladang Gas Al Hosn di Uni Emirat Arab. Selain itu, Kompleks Petrokimia Mesaieed dan Kilang Ras Laffan di Qatar juga termasuk dalam daftar target.
"Pusat-pusat ini merupakan target sah dan akan diserang dalam beberapa jam mendatang. Seluruh warga dan pekerja diminta segera meninggalkan area tersebut dan menuju lokasi aman," demikian bunyi peringatan Iran tersebut.
Sementara itu, seorang pejabat Israel yang dikutip oleh jurnalis Barak Ravid mengungkapkan bahwa serangan terhadap infrastruktur gas Iran dilakukan dengan persetujuan dan koordinasi dari Amerika Serikat.
Presiden AS, Donald Trump, juga menegaskan sikap tegas Washington dengan menyebut Iran sebagai negara sponsor teror nomor satu dan menekankan pentingnya melumpuhkan aktivitas negara tersebut. Di sisi lain, otoritas Iran melaporkan bahwa kebakaran di fasilitas South Pars masih dalam penanganan, dan hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa dari insiden tersebut.
Ketegangan yang meningkat ini berdampak langsung pada pasar energi global, dengan harga minyak mentah melonjak lebih dari 4 persen, mencapai lebih dari 108 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan akibat konflik yang meluas dan kemungkinan penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Sementara itu, Qatar yang telah menghentikan produksi gas alam cairnya di tengah konflik ini memperingatkan bahwa kerusakan lebih lanjut pada fasilitas energi dapat memperburuk gangguan pasokan global, yang berdampak pada sekitar 20 persen pasokan LNG dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengutuk serangan terhadap infrastruktur energi dan memperingatkan akan risiko eskalasi yang lebih lanjut. "Penargetan fasilitas energi merupakan ancaman serius bagi keamanan energi global dan stabilitas kawasan," ujarnya.
Advertisement
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Uni Emirat Arab, yang menganggap serangan terhadap infrastruktur energi sebagai sebuah eskalasi berbahaya yang dapat memperburuk ketidakstabilan di kawasan. Sejak dimulainya perang pada 28 Februari, konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel telah mengakibatkan lebih dari 3.000 korban jiwa, termasuk ratusan warga sipil, sebagaimana dilaporkan oleh kelompok pemantau HAM yang berbasis di Amerika Serikat.
Menanggapi situasi tersebut, Iran terus melancarkan serangan terhadap sejumlah target di kawasan Teluk dan memperketat blokade di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk distribusi minyak dunia. Di tengah meningkatnya tekanan dari masyarakat internasional, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan Spanyol memilih untuk tidak terlibat langsung dalam operasi militer yang bertujuan untuk membuka kembali jalur tersebut.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa aliansi tersebut sedang mendiskusikan langkah-langkah terbaik untuk merespons situasi yang berkembang, tetapi hingga saat ini belum ada keputusan konkret mengenai intervensi. Di sisi lain, Rusia, melalui juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan pengalihan pasokan energi sebagai reaksi terhadap gejolak yang sedang berlangsung.
Konflik yang semakin meluas ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global yang lebih dalam, serta meningkatkan tekanan dari komunitas internasional untuk segera menemukan solusi de-eskalasi. Dengan situasi yang semakin rumit, penting bagi negara-negara terkait untuk mencari jalan keluar yang damai demi stabilitas kawasan dan dunia.