Imbas Iran Tutup Selat Hormuz: Harga Minyak Melonjak Naik
Kenaikan harga minyak mencapai 9% setelah berita mengenai penutupan Selat Hormuz oleh Iran muncul.
Harga minyak mentah mengalami lonjakan lebih dari 8% pada perdagangan hari Senin, menyusul laporan yang menyatakan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz. Kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat pasar cemas, yang berpotensi menyebabkan gangguan besar pada pasokan minyak global.
Menurut CNBC pada Selasa (3/3/2026), minyak mentah AS ditutup dengan kenaikan 8,4% atau USD 5,72, mencapai level USD 72,74 per barel. Kenaikan harga ini terus berlanjut bahkan setelah pasar resmi ditutup, menyusul pengumuman Iran tentang penutupan Selat Hormuz.
Di sisi lain, minyak Brent yang menjadi acuan global juga mengalami lonjakan signifikan sebesar 9% atau USD 6,65, mencapai USD 79,45 per barel. Harga ini tercatat sebagai yang tertinggi sejak serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.
Dalam sesi perdagangan tersebut, harga minyak sempat meroket lebih dari 12% sebelum akhirnya mengalami koreksi dari level tertinggi harian.
Pernyataan Garda Revolusi Iran Menimbulkan Kepanikan Pasar
Kenaikan harga minyak semakin tajam setelah sebuah kantor berita internasional melaporkan pernyataan dari komandan Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan membakar kapal yang mencoba melintas.
Gelombang serangan udara besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan dilaporkan telah menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai siapa yang akan memimpin Iran selanjutnya, mengingat negara tersebut merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC.
Respons pasar minyak sangat bergantung pada apakah konflik ini akan menyebabkan gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang merupakan jalur terpenting untuk perdagangan minyak dunia. Analis dari UBS yang dipimpin oleh Henri Patricot menyatakan dalam laporannya, "We view the pace of the rebound in traffic through Hormuz and the extent of Iranian retaliation as key for the oil price in the next few days." Dengan demikian, perkembangan situasi ini akan sangat mempengaruhi harga minyak global dalam waktu dekat.
Trump Mau Negosiasi, Iran Tegas Menolak
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa operasi militer akan terus berlangsung hingga semua tujuan yang ditetapkan oleh Amerika tercapai. Namun, ia juga menunjukkan kemungkinan untuk melakukan de-eskalasi.
"Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka," kata Trump kepada The Atlantic.
Selain itu, dalam pernyataannya kepada CNBC, Trump menyatakan bahwa operasi militer AS di Iran berlangsung "lebih cepat dari jadwal."
Sementara itu, Ali Larijani, seorang pejabat keamanan Iran, menolak untuk melakukan perundingan dengan pihak Washington. Ia menegaskan serangan gabungan antara AS dan Israel telah membawa kawasan ke dalam konflik yang tidak perlu.
"Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat," tegasnya melalui media sosial, sembari membantah informasi bahwa Iran ingin membuka kembali jalur diplomasi.
Tanker Tidak Lagi Melintas, Harga Dapat Mencapai USD 120
Laporan terbaru menyebutkan bahwa aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz telah terhenti akibat langkah pencegahan yang diambil oleh perusahaan pelayaran. Konsultan energi Rystad Energy mengonfirmasi bahwa tidak ada kapal yang melintas di selat tersebut untuk sementara waktu.
"Saat ini tampaknya tidak ada kapal yang melintas --- kapal-kapal tanker benar-benar ketakutan," kata analis Kpler, Matt Smith.
Data dari Kpler juga menunjukkan bahwa lebih dari 14 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz sepanjang tahun 2025, yang merupakan sekitar sepertiga dari total ekspor minyak laut dunia. Sekitar 75% dari jumlah tersebut dikirim ke negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Prediksi dari analis Barclays menunjukkan bahwa harga minyak Brent dapat menembus angka USD 100 per barel jika kondisi keamanan semakin memburuk. UBS bahkan memperkirakan bahwa harga spot bisa melonjak di atas USD 120 per barel jika terjadi gangguan pasokan yang signifikan.
"Bagaimana situasi ini akan berakhir masih sangat tidak pasti pada saat ini. Namun sementara itu, pasar minyak harus menghadapi skenario terburuknya. Dampak potensial terhadap pasar minyak sulit untuk dilebih-lebihkan," kata Analis Barclays, Amarpreet Singh.
Selain itu, ekspor minyak Iran juga berisiko mengalami penurunan drastis akibat ketidakpastian kepemimpinan di Teheran, gejolak domestik, serta kemungkinan aksi mogok di daerah produksi dan pelabuhan. Saat ini, Iran menghasilkan sekitar 3,3 juta barel minyak per hari.