Imbas Ancaman Trump Serang Infrastruktur Iran, Harga Minyak Naik Tipis
Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah Donald Trump mengeluarkan ancaman baru terhadap Iran yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
Harga minyak dunia mengalami sedikit kenaikan pada perdagangan hari Senin, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengulangi ancamannya terhadap Iran.
Trump mengungkapkan bahwa ia akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika negara tersebut tidak segera membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital untuk distribusi minyak global. Mengutip CNBC pada Selasa (7/4), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei meningkat sebesar 0,78% dan ditutup pada level USD 112,41 per barel. Di sisi lain, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global juga mengalami penguatan sebesar 0,68%, mencapai USD 109,77 per barel.
Dalam konferensi pers, Trump menegaskan, "Kita harus memiliki kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kami ingin lalu lintas bebas untuk minyak dan hal lainnya."
Ia juga menegaskan bahwa Iran memiliki batas waktu untuk membuka Selat Hormuz hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat. Ancaman ini menunjukkan ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut, yang dapat mempengaruhi stabilitas harga minyak di pasar global.
Dengan situasi yang semakin memanas, investor dan pelaku pasar akan terus memperhatikan perkembangan ini dengan seksama.
Ancaman Infrastruktur bisa Ganggu Pasokan
Meskipun mengakui Iran sebagai pihak yang terbuka untuk bernegosiasi, Trump tetap mengeluarkan ancaman yang tegas. "Saya bisa katakan bahwa kami memiliki pihak yang aktif dan bersedia di sisi lain. Mereka ingin mencapai kesepakatan. Saya tidak bisa mengatakan lebih banyak," ungkap Trump.
Namun, ia juga menegaskan akan menghancurkan semua jembatan dan pembangkit listrik di Iran dalam waktu empat jam setelah tenggat waktu berakhir. "Butuh 100 tahun bagi mereka untuk membangun kembali," tambahnya.
Di sisi lain, Iran dilaporkan berhasil menutup Selat Hormuz dengan melakukan serangan terhadap kapal tanker minyak. Jalur laut ini sebelumnya merupakan rute bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, yang mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah, bahan bakar jet, solar, dan bensin sejak konflik dimulai. Dalam pidato nasional yang disampaikan pekan lalu, Trump bahkan memperkirakan bahwa konflik ini bisa berlangsung selama dua hingga tiga minggu.
Gangguan Pasokan Global
Lembaga riset telah memperkirakan bahwa dampak dari konflik yang terjadi akan sangat signifikan terhadap pasokan energi global. Menurut analisis dari TD Securities, diperkirakan hampir 1 miliar barel minyak akan hilang hingga akhir bulan ini. Angka tersebut terdiri dari sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.
"Dengan konflik yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan April, perhitungan pasokan minyak menjadi semakin suram," ungkap Ryan McKay, analis komoditas senior dari TD Securities.
Selain itu, Rapidan Energy juga memperkirakan total kehilangan bersih mencapai 630 juta barel hingga akhir Juni. Meskipun ada upaya untuk mengalihkan distribusi melalui pipa, pelepasan cadangan darurat, dan pengurangan stok, dampak dari kehilangan ini tetap akan terasa.
OPEC buat Keputusan Penting
Dalam situasi yang tengah berlangsung, kelompok OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk meningkatkan produksi minyak sebanyak 206.000 barel per hari yang akan mulai berlaku pada bulan Mei. Meskipun demikian, tantangan dalam distribusi minyak tetap ada, terutama karena Selat Hormuz masih dalam keadaan tertutup.
Selain itu, Kuwait Petroleum Corporation melaporkan bahwa beberapa fasilitas operasionalnya telah diserang oleh drone, yang mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan. OPEC+ juga memberikan peringatan bahwa perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan tersebut akan memerlukan biaya yang cukup besar dan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.