Media Iran Bocorkan Draf Kesepakatan dengan AS, Cakup Pencairan Aset sebesar USD 12 Miliar
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin meningkat, meskipun kedua pihak berusaha mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Media pemerintah Iran melaporkan isi nota kesepahaman (MoU0 antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dalah satunya mencakup rencana pencairan aset Iran senilai USD 12 miliar yang selama ini dibekukan, Sabtu (30/5).
Laporan tersebut dikutip dari CNA yang menyebutkan bahwa draf "tidak resmi" dari nota kesepahaman itu telah diperoleh. Sementara itu, Gedung Putih membantah laporan serupa yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran awal pekan ini dan menyebutnya sebagai "rekayasa".
Laporan ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump memberikan penjelasan rinci mengenai potensi kesepakatan yang bertujuan untuk menghentikan perang antara kedua negara. Namun, beberapa poin utama dalam penjelasan Trump telah dibantah oleh sumber-sumber dari Iran.
Dalam laporan televisi pemerintah Iran pada Sabtu, disebutkan bahwa "AS telah berjanji memberikan Iran akses penuh terhadap asetnya senilai USD 12 miliar dalam waktu 60 hari, sehingga sumber daya tersebut dapat ditransfer dan digunakan melalui bank-bank di tujuan yang diinginkan Iran tanpa pembatasan."
Dalam penjelasannya mengenai kesepakatan tersebut pada Jumat (29/5), Trump menegaskan bahwa tidak akan ada dana yang dicairkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Pernyataan ini segera dibantah oleh laporan media Iran yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Awal pekan ini, seorang sumber mengungkapkan kepada AFP bahwa kepala bank sentral Iran merupakan bagian dari delegasi yang mengunjungi Qatar untuk membahas dana Iran yang dibekukan, yang disebut dalam MoU sebagai bagian dari kemungkinan kesepakatan final.
Laporan televisi pemerintah Iran pada Sabtu juga menyebutkan bahwa Teheran akan tetap mengelola Selat Hormuz, yang telah diblokade Iran sejak dimulainya perang dan memicu gejolak di pasar global. Pada Jumat, Trump menyatakan bahwa Iran akan membuka kembali selat tersebut "untuk lalu lintas pelayaran tanpa hambatan". AS berulang kali menegaskan bahwa tidak dapat menerima jika Iran tetap mempertahankan kendali atas jalur vital pengiriman energi tersebut.