Selat Hormuz Siap Ditutup Iran, Harga Minyak Bisa Meledak hingga Rp1,6 Juta
Nilai transaksi dari perlintasan minyak dunia di selat ini tembus Rp9.000 triliun per tahunnya.
Iran menyatakan akan menutup Selat Hormuz sebagai respons serius terhadap serangan udara Amerika Serikat ke tiga situs nuklir Iran yaitu;Fordow, Natanz, dan Isfahan. Ancaman ini memicu kekhawatiran mengenai dampak global bagi ekonomi dan harga minyak.
Berdasarkan laporan CNBC, ketiga situs ini adalah pusat sistem nuklir Iran yang sangat strategis. Serangan terhadapnya telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 11% dalam seminggu terakhir, mencapai sekitar USD 80 per barel atau sekitar Rp1.312.928 sebelum turun dan kembali naik yang dipicu sentimen ketegangan geopolitik .
Menurut estimasi lembaga informasi energi EIA Amerika Serikat, 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz, nilai yang menyumbang hampir USD600 miliar atau setara Rp9.846 triliun perdagangan energi per tahun. Iran sebagai anggota OPEC+ terbesar ketiga menyumbang sepertiga dari produksi global. Gangguan di jalur ini diperkirakan akan segera berdampak pada harga minyak dan ekonomi global. .
“Banyak hal bergantung pada respons Iran dalam beberapa jam dan hari mendatang, tetapi ini bisa mendorong harga minyak ke USD100 per barel jika Iran benar-benar menutup selat," ujar Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee.
Secara hukum, Presiden AS dapat melancarkan operasi militer tanpa persetujuan Kongres, berdasarkan wewenang sebagai kepala komando tertinggi. Namun, belum ada persetujuan resmi atas penggunaan kekuatan terhadap Iran .
Harga minyak yang tinggi akan memberikan tekanan pada sektor-industri besar seperti harga pemasaran minyak, penerbangan, serta inflasi domestik. Sebagai contoh, kenaikan USD 10 per barel bisa menambah biaya sebesar 30–40 basis poin, menurut Santanu Sengupta dari Goldman Sachs .
OPEC+ dijadwalkan menggelar rapat kembali pada 5 Juli, untuk mempertimbangkan kenaikan produksi pada Agustus setelah penambahan suplai 4,11 juta barel per hari dalam dua bulan sebelumnya. Namun, keputusan Iran menutup Hormuz bisa membuat upaya tersebut menjadi tidak efektif .
Di sisi lain, OPEC+ dan pelaku pasar lainnya mengamati kemungkinan de-eskalasi, berdasarkan pengalaman masa lalu, seperti serangan ke Abqaiq di Saudi Arabia tahun 2019 yang sempat mengganggu pasokan, namun pulih cepat dalam hitungan minggu.