Harga Minyak Dunia Stabil di Level Tinggi Tanggapi Ketegangan AS–Iran
Harga minyak dunia tetap stabil di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir, didorong oleh ketegangan antara AS dan Iran serta potensi gangguan pasokan.
Harga minyak dunia mengalami sedikit penurunan pada perdagangan hari Jumat, tetapi tetap berada di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Penurunan ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya harga minyak mengalami kenaikan yang signifikan, sementara pasar terus mengawasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC pada Sabtu (31/1), harga minyak mentah Brent ditutup pada level USD 70,69 per barel, yang turun 2 sen atau 0,03%. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada harga USD 65,21 per barel, mengalami penurunan sebesar 21 sen atau 0,32%. Pelaku pasar menilai bahwa risiko geopolitik yang melibatkan Iran adalah faktor utama yang mempengaruhi harga minyak dunia saat ini.
"Sekarang semuanya benar-benar soal Iran," ujar John Kilduff, partner di Again Capital.
"Pasar sudah memperhitungkan banyak risiko geopolitik terkait Iran, tetapi sulit mengukurnya secara pasti saat ini. Pertanyaannya, jika ada tindakan terhadap Iran, apa respons mereka?"
Sehari sebelum penutupan, harga minyak sempat mencapai level tertinggi sejak awal Agustus. Beberapa sumber melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan langkah-langkah terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan terbatas, yang memicu kekhawatiran akan adanya gangguan pasokan.
Meskipun demikian, baik AS maupun Iran sama-sama memberikan sinyal terbuka untuk dialog, namun Teheran menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya tidak boleh menjadi bagian dari negosiasi.
Konflik Rusia dan Ukraina Terus Berlanjut
Menurut analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, saat ini reli harga minyak mulai mengalami hambatan akibat adanya peluang meredanya konflik di beberapa wilayah.
"Kenaikan ini tertahan oleh prospek gencatan senjata yang dingin antara Rusia dan Ukraina serta kemungkinan serangan terhadap Iran tidak terjadi, karena pemerintahan Trump membuka pintu dialog soal program nuklir Iran," ujarnya.
Selain itu, Amerika Serikat juga telah meningkatkan posisi militernya di Timur Tengah dalam beberapa minggu terakhir, serta menjatuhkan sanksi baru terhadap tujuh individu Iran dan satu entitas.
Penguatan dolar AS yang terjadi setelah mencapai posisi terendah dalam empat tahun terakhir turut berkontribusi pada penurunan harga minyak dunia.
Dolar yang menguat setelah pengumuman Trump mengenai penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua bank sentral AS yang baru, membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Hal ini berpotensi menekan permintaan terhadap minyak secara global.
Ketersediaan Minyak
Menurut analis PVM Oil, Tamas Varga, sentimen pasar minyak juga dipengaruhi oleh faktor pasokan. "Kenaikan produksi minyak mentah AS setelah penghentian operasi dan hampir pulihnya produksi ladang minyak Tengiz di Kazakhstan ikut memengaruhi perubahan sentimen. Setelah kinerja bullish sepekan, wajar jika ada aksi ambil untung menjelang akhir pekan," ujarnya.
Selain itu, periode puncak perawatan kilang utama Rusia diperkirakan akan terjadi pada bulan ini dan September, berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Reuters.
Hasil survei yang melibatkan 32 analis menunjukkan bahwa mayoritas memperkirakan harga minyak dunia akan tetap berada di kisaran USD 60 per barel tahun ini.
Hal ini disebabkan oleh potensi kelebihan pasokan yang dapat menyeimbangkan risiko gangguan akibat ketegangan geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam menghadapi fluktuasi harga minyak yang mungkin terjadi.