Ketua DPR AS Ungkap Trump Sudah Beri Kesempatan Damai, Iran Menolak Pelucutan Nuklir
Menurut Johnson, Teheran menolak untuk menunjukkan komitmen terhadap pelucutan senjata nuklir, meskipun jalur diplomatik telah ditawarkan.
Ketua DPR Amerika Serikat, Mike Johnson mengatakan, Presiden Donald Trump telah memberikan setiap kesempatan kepada pemerintah Iran untuk mencapai kesepakatan damai. Sebelum akhirnya memutuskan melancarkan serangan militer terhadap fasilitas nuklir negara tersebut.
Menurut Johnson, Teheran menolak untuk menunjukkan komitmen terhadap pelucutan senjata nuklir, meskipun jalur diplomatik telah ditawarkan.
"Presiden telah memberi pemimpin Iran segala kesempatan untuk membuat sebuah kesepakatan, tetapi Iran menolak untuk berkomitmen pada perjanjian pelucutan senjata nuklir," ujar Johnson seperti dilansir dari Antara, Minggu (22/6).
Pernyataan ini muncul setelah Trump mengklaim keberhasilan operasi militer Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Johnson menegaskan, operasi militer ini harus menjadi pengingat kuat bagi musuh dan sekutu bahwa Trump serius dengan ucapannya.
"Operasi militer di Iran seharusnya menjadi pengingat yang jelas bagi musuh dan sekutu kita bahwa Presiden Trump sungguh-sungguh dengan ucapannya," tambahnya.
Mencegah Iran Miliki Nuklir
Lebih jauh, Mike Johnson mengatakan, Trump bersikap tegas dan konsisten terhadap potensi ancaman nuklir dari Iran.
"Presiden Trump telah konsisten dan jelas bahwa Iran yang bersenjata nuklir tidak akan ditoleransi. Sikap itu kini telah ditegakkan dengan kekuatan, ketepatan, dan kelugasan," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa tujuan utama serangan ini adalah untuk mencegah Iran memperoleh senjata paling mematikan di bumi.
AS Serang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan, AS telah melancarkan "serangan yang sangat sukses" terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (21/6) melalui platform Truth Social di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan negara-negara Barat di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan, seluruh pesawat tempur milik AS telah meninggalkan wilayah udara Iran setelah menjalankan misi mereka.
Serangan ini terjadi setelah Israel sebelumnya meluncurkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran dan disebut meminta keterlibatan militer AS dalam operasi tersebut. Beberapa target yang diserang dikabarkan merupakan bagian dari program pengembangan nuklir Iran yang selama ini menjadi sorotan komunitas internasional.
Keterlibatan langsung AS dalam operasi militer ini disebut-sebut sebagai bentuk dukungan terhadap agresi Israel. Namun, langkah ini dilakukan di tengah peringatan tegas dari Teheran agar Washington tidak ikut campur dalam konflik tersebut.
Seperti dilansir dari Antara, analis memperkirakan, tindakan ini dapat memperburuk eskalasi konflik di kawasan dan membuka kemungkinan serangan balasan dari Iran, khususnya terhadap sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pernyataan video terbarunya, memperingatkan keterlibatan AS dalam konflik dengan Israel akan membawa "konsekuensi yang sangat berat."
Media AS juga melaporkan dalam serangan tersebut, militer Amerika Serikat menggunakan alutsista canggih seperti pesawat pengebom siluman B-2 serta rudal penghancur bunker yang mampu menghancurkan struktur bawah tanah, termasuk fasilitas nuklir.
Sementara itu, sejak 13 Juni, Israel telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran melalui serangan rudal ke wilayah Tel Aviv. Aksi balasan tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban tewas dan luka-luka di kedua pihak.