Laporan Intelijen AS Sebut Situs Nuklir Iran Tidak Hancur Total Seperti Klaim Trump
Intelijen AS merilis laporan tentang serangan ke tiga situs nuklir Iran pada Minggu lalu.
Sebuah laporan intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa program nuklir Iran hanya mengalami kemunduran dalam beberapa bulan setelah serangan AS. Laporan tersebut bertentangan dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang mengatakan lokasi itu telah “dihancurkan sepenuhnya.”
Laporan yang dirilis oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang dirilis pada Senin (23/6) bertentangan dengan pernyataan dari Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentang status fasilitas nuklir Iran. Menurut orang-orang yang mengetahui hal ini, laporan itu menemukan bahwa meskipun serangan pada Minggu (22/6) di situs nuklir Fordo, Natanz, dan Isfahan menyebabkan kerusakan yang signifikan, fasilitas tersebut tidak hancur total.
AS berharap untuk memulai kembali negosiasi dengan Iran untuk meyakinkannya agar menghentikan program nuklir sepenuhnya. Tetapi beberapa ahli khawatir serangan AS dapat mendorong Teheran untuk mengembangkan senjata yang berfungsi.
Dipindahkan
Penelitian ini juga menunjukkan setidaknya sebagian uranium Iran yang sangat diperkaya untuk membuat senjata nuklir telah selamat dan dipindahkan dari beberapa lokasi sebelum serangan AS. Lebih lanjut, ditemukan bahwa sentrifus Iran yang diperlukan untuk memperkaya uranium ke tingkat senjata juga masih utuh.
Gedung Putih menolak tegas penilaian laporan DIA dan menyebutnya “salah total.”
“Kebocoran penilaian yang dituduhkan ini merupakan upaya yang jelas untuk merendahkan Presiden Trump, dan mendiskreditkan pilot pesawat tempur yang melakukan misi dan mengeksekusinya dengan sempurna untuk melenyapkan program nuklir Iran,” kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, seperti dikutip dari Associated Press, Rabu (25/6).
“Semua orang tahu apa yang terjadi ketika Anda menjatuhkan empat belas bom seberat 13,6 ton dengan sempurna pada target mereka: pemusnahan total,” lanjut Karoline.
Keterlaluan
CIA dan Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) menolak mengomentari penilaian DIA. ODNI mengoordinasikan pekerjaan 18 badan intelijen negara, termasuk DIA. Pemerintahan Israel juga belum merilis penilaian resmi apa pun atas serangan AS.
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mengatakan ia telah membaca laporan penilaian kerusakan dari intelijen AS dan negara-negara lain. Ia menegaskan kembali serangan tersebut telah merampas kemampuan Iran untuk mengembangkan senjata dan menyebut tindakan menyebarkan laporan intelijen itu kepada wartawan “keterlaluan.”
“Itu pengkhianatan, sehingga harus diselidiki,” kata Witkoff kepada Fox News.
Pertama Kali Dilaporkan ke CNN
Penilaian intelijen tersebut pertama kali dilaporkan oleh CNN kemarin. Para ahli dari luar negeri menduga Iran kemungkinan telah menyembunyikan komponen inti dari program nuklirnya karena telah menduga bahwa bom penghancur bunker AS akan digunakan di lokasi nuklirnya.
Buldoser dan truk yang terlihat dalam citra satelit yang diambil beberapa hari sebelum serangan. Hal ini memicu spekulasi di antara para ahli bahwa Iran mungkin telah memindahkan persediaan uranium yang diperkaya sebanyak setengah ton ke lokasi yang tidak diketahui. Selain itu, penghancuran situs nuklir yang tidak tuntas masih dapat membuat Iran memiliki kapasitas untuk memutar uranium tingkat senjata dan mengembangkan bom.
Iran telah menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai, tetapi telah memperkaya uranium dalam jumlah yang signifikan untuk penggunaan sipil.
Perusahaan pencitraan dan analisis satelit Amerika Maxar Technologies mengatakan satelitnya memotret truk dan buldoser di lokasi Fordo mulai 19 Juni, tiga hari sebelum As menyerang.
Citra berikutnya mengungkapkan bahwa “pintu masuk terowongan ke kompleks bawah tanah telah ditutup dengan tanah sebelum serangan udara AS,” kata Stephen Wood, direktur senior di Maxar.
“Kami yakin bahwa beberapa truk yang terlihat pada 19 Juni membawa tanah untuk digunakan sebagai bagian dari operasi itu.”
Beberapa ahli mengatakan truk-truk itu dapat digunakan untuk memindahkan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.
“Ada kemungkinan Iran memindahkan material yang diperkaya hingga 60 persen dari Fordo dan membawanya ke truk,” kata Eric Brewer, mantan anais intelijen AS yang sekarang menjadi wakil presiden di Nuclear Threat Initiative.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey