Iran Klaim Sudah Evakuasi Fasilitas Nuklir Fordow Sebelum Serangan AS
Di tengah pernyataan AS tentang keberhasilan serangan, pihak Iran tetap menunjukkan sikap siap siaga.
Pemerintah Iran mengaku telah memprediksi serangan militer Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir Fordow, sehingga berhasil melakukan evakuasi sebelum serangan terjadi. Klaim ini disampaikan Mehdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran, melalui platform X (Twitter).
"Dari sudut pandang Iran, tidak ada kejadian yang mengejutkan. Iran telah memperkirakan serangan terhadap fasilitas nuklir Fordow dalam beberapa hari. Fasilitas nuklir ini sudah dievakuasi sehingga tidak ada kerusakan yang tidak dapat diperbaiki selama serangan hari ini," kata Mohammadi seperti dilansir dari Antara, Minggu (22/6).
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah sukses menyerang tiga fasilitas nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Esfahan, dengan menjatuhkan muatan bom penuh ke target utama Fordow.
Trump Desak Hentikan Perang
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis:
"Saya akan menyampaikan pidato pada pukul 10:00 P.M. (09:00 WIB), di Gedung Putih, perihal operasi militer kami yang sangat sukses di Iran. Ini adalah MOMEN BERSEJARAH BAGI AMERIKA SERIKAT, ISRAEL, DAN DUNIA."
Tidak hanya itu, Trump menegaskan, kini tanggung jawab ada di tangan Iran untuk menyudahi eskalasi yang sedang berlangsung.
"SEKARANG IRAN HARUS SETUJU UNTUK MENGAKHIRI PERANG INI. TERIMA KASIH!" tulisnya.
Di tengah pernyataan AS tentang keberhasilan serangan, pihak Iran tetap menunjukkan sikap siap siaga. Mohsen Rezaei, anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, sebelumnya menyatakan bahwa semua material pengayaan nuklir milik Iran telah dipindahkan ke lokasi aman.
Serangan ini disebut sebagai bagian dari Operasi Rising Lion, dengan keterlibatan bom Bunker Buster GBU-57 dan rudal Tomahawk, yang diluncurkan dari pesawat siluman dan kapal selam AS. Namun hingga kini, belum ada bukti kerusakan besar pada fasilitas Fordow sebagaimana diklaim AS.