Spesifikasi Rudal Tomahawk dan Bom GBU-57 yang Hantam Fasilitas Nuklir Iran
Tomahawk adalah rudal jelajah subsonik jarak jauh yang dikembangkan dan menjadi salah satu andalan alutsista dari Amerika Serikat.
Keikutsertaan Amerika Serikat (AS) dalam konflik antara Israel dengan Iran telah menjadi sorotan. Setelah serangan dari Negeri Paman Sam yang mengklaim telah menghancurkan tiga situs nuklir Iran.
Serangan dari AS ini turut menggunakan rudal Tomahawk yang memiliki arti kapak suku Indian, setidaknya sebanyak 30 rudal diluncurkan ke target utama fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan milik Iran.
Dikutip melalui website Naval Air Systems Command, dijelaskan jika Tomahawk adalah rudal jelajah subsonik jarak jauh yang dikembangkan dan menjadi salah satu andalan alutsista dari Amerika Serikat.
Rudal ini memiliki beberapa varian mulai dari TLAM-C, TLAM-D, hingga yang terbaru Block IV (Tactical Tomahawk) yang dapat diluncurkan secara fleksibel, dari kapal selam, kapal perang permukaan, maupun peluncur darat.
Dengan kemampuan presisi tinggi untuk menyerang target darat, rudal ini turut memakai navigasi TERCOM (Terrain Contour Matching) membandingkan medan yang dilalui rudal dengan peta digital dan DSMAC (Digital Scene Matching Area Correlation) membandingkan citra yang diambil rudal dengan citra yang tersimpan dalam sistem.
Dengan spesifikasi rata-rata panjang sekitar 5,5 - 6,25 meter, berat antara 1.300 - 1.600 kg, dan jangkauan hingga 2.400 kilometer. Rudal ini dapat mencapai kecepatan jelajahnya sekitar 885 km/jam, dengan kekuatan ledakan bisa setara 500 kg TNT.
Selain itu, AS juga dilaporkan turut menggunakan enam Bom Bunker Buster GBU-57 jenis bom yang dirancang untuk menembus struktur beton bertulang atau tanah dalam. Kemampuan itu, karena adanya penunda waktu ledakan yang dapat menarget sasaran di bawah tanah.
Bom ini biasanya diluncurkan dari pesawat pengebom, seperti B-2 Spirit pesawat AS yang dapat membawa senjata khusus menarget tempat seperti penyimpanan senjata, pusat komando militer, atau fasilitas nuklir yang dibangun jauh di bawah tanah.
Secara spesifikasi GBU-57 memiliki berat 13.600 kilogram, termasuk hulu ledak seberar 2.700 kilogram. Senjata ini terbuat dari baja berkekuatan tinggi dan dirancang untuk menemebus hingga 61 meter di bawah tanah sebelum meledak.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan, AS telah melancarkan "serangan yang sangat sukses" terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (21/6) melalui platform Truth Social di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan negara-negara Barat di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan, seluruh pesawat tempur milik AS telah meninggalkan wilayah udara Iran setelah menjalankan misi mereka.
Serangan ini terjadi setelah Israel sebelumnya meluncurkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran dan disebut meminta keterlibatan militer AS dalam operasi tersebut. Beberapa target yang diserang dikabarkan merupakan bagian dari program pengembangan nuklir Iran yang selama ini menjadi sorotan komunitas internasional.
Keterlibatan langsung AS dalam operasi militer ini disebut-sebut sebagai bentuk dukungan terhadap agresi Israel. Namun, langkah ini dilakukan di tengah peringatan tegas dari Teheran agar Washington tidak ikut campur dalam konflik tersebut.