Adopsi QRIS di Bengkulu Menguat, Transaksi Tumbuh 28 Persen Lampaui Target
Bank Indonesia (BI) mencatat adopsi penggunaan QRIS di Bengkulu terus meningkat signifikan, dengan transaksi tumbuh 28 persen melampaui target tahunan. Peningkatan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran nontunai yang semakin kua
Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu melaporkan bahwa adopsi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah tersebut terus menunjukkan penguatan. Tren transaksi nontunai di masyarakat Bengkulu semakin meningkat, dibuktikan dengan pertumbuhan nilai transaksi yang mencapai 28 persen, melampaui target yang telah ditetapkan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pengguna QRIS sejalan dengan berbagai upaya strategis. Inisiatif seperti QRIS Banking Race 2025, Gerakan Mahasiswa Scan QRIS (GEMA QRIS), serta sosialisasi masif dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci perluasan implementasi QRIS.
Digitalisasi keuangan daerah merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong efisiensi transaksi di beragam sektor. Wahyu menambahkan bahwa Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) memiliki peran krusial dalam memperkuat sinergi antar instansi, khususnya untuk mempercepat implementasi sistem pembayaran digital di daerah.
Pertumbuhan Pengguna dan Volume Transaksi QRIS yang Signifikan
Hingga triwulan IV-2025, jumlah pengguna QRIS di Bengkulu telah mencapai 271.144, menandai pertumbuhan sekitar 10 persen secara tahunan. Angka ini mencerminkan penerimaan yang positif dari masyarakat terhadap kemudahan dan kecepatan transaksi digital.
Tidak hanya pengguna, jumlah merchant yang menerima pembayaran QRIS juga mengalami peningkatan pesat. Tercatat sebanyak 235.844 merchant telah mengadopsi layanan QRIS, tumbuh 27 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Volume transaksi QRIS di Bengkulu juga menunjukkan lonjakan yang signifikan. Dari target tahunan 42 juta transaksi, realisasinya mampu mencapai 54 juta transaksi. Pencapaian ini berarti pertumbuhan sekitar 28 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Peran Strategis Digitalisasi dan Kolaborasi TP2DD
Peningkatan adopsi transaksi digital ini tidak terlepas dari upaya berkelanjutan Bank Indonesia dan pihak terkait. Wahyu Yuwana Hidayat menilai bahwa data ini mencerminkan semakin kuatnya adopsi transaksi digital di tengah masyarakat.
Selain itu, pertumbuhan ini juga mengindikasikan meningkatnya kepercayaan publik terhadap sistem pembayaran nontunai. Kepercayaan ini didukung oleh kemudahan, keamanan, dan efisiensi yang ditawarkan oleh QRIS dalam berbagai aktivitas ekonomi.
Pemerintah daerah dituntut untuk tidak hanya menjalankan program digitalisasi, tetapi juga memastikan setiap inovasi dan capaian terdokumentasi dengan baik. Hal ini penting sebagai bagian dari penilaian kinerja TP2DD, yang berperan vital dalam mendorong ekosistem pembayaran digital yang inklusif dan adaptif.
Sumber: AntaraNews