Pemerintah Dorong Pemanfaatan LCT dalam Kerja Sama Multilateral, Perkuat Ekonomi Nasional
Pemerintah Indonesia terus mengoptimalkan pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) dalam kerja sama multilateral untuk memperkuat ketahanan ekonomi. Simak bagaimana LCT mengurangi volatilitas nilai tukar dan mendukung sektor riil.
Pemerintah Indonesia secara aktif mendorong pengoptimalan pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi mata uang lokal. Langkah ini diambil mengingat sebagian besar mitra dagang utama Indonesia merupakan negara dengan ekonomi nondolar, sehingga mengurangi ketergantungan pada mata uang utama seperti dolar AS. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar keuangan, dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, menjelaskan bahwa Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi volatilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan. Pemanfaatan LCT juga menjadi instrumen nyata untuk memperkuat nilai tukar rupiah dan mendukung kegiatan sektor riil.
Kerangka LCT Indonesia telah terus berkembang sejak diluncurkan pada tahun 2018, dengan pemanfaatannya yang meluas pada berbagai sektor utama. Sektor-sektor tersebut mencakup manufaktur, listrik dan gas, transportasi, perdagangan, dan jasa. Melalui LCT, transaksi lintas batas dapat diselesaikan langsung dalam mata uang lokal tanpa perlu bergantung pada mata uang utama, memberikan fleksibilitas dan efisiensi lebih bagi pelaku bisnis.
Perkembangan dan Manfaat LCT bagi Ekonomi Nasional
Pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) menunjukkan peran strategisnya dalam memperkuat ekonomi Indonesia. Sejak diluncurkan pada tahun 2018, kerangka LCT telah diimplementasikan dengan enam mitra utama hingga tahun 2025, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kerja sama ini diperkuat melalui perluasan dan peningkatan pengaturan bilateral, mencerminkan kemajuan signifikan dalam memperdalam kerja sama keuangan regional dan mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas.
Partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam LCT mencapai sekitar 10–19 persen dari total transaksi, menunjukkan peningkatan pemanfaatan dan ruang yang signifikan untuk ekspansi lebih lanjut. LCT memungkinkan transaksi lintas batas diselesaikan langsung dalam mata uang lokal, tanpa bergantung pada mata uang utama seperti dolar AS. Hal ini secara langsung berkontribusi pada efisiensi transaksi dan pengurangan risiko volatilitas nilai tukar.
Ferry Irawan menegaskan bahwa pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi, pengurangan kerentanan eksternal, dan penguatan kerja sama keuangan multilateral. “Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” tutur Ferry Irawan.
Peningkatan Signifikan Transaksi dan Partisipasi LCT
Transaksi Local Currency Transaction (LCT) telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten baik dalam nilai maupun partisipasi pasar. Pada periode Januari–Februari 2026, nilai transaksi LCT mencapai sekitar 8,45 miliar dolar AS. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yang hanya sebesar 3,21 miliar dolar AS, menunjukkan pertumbuhan yang substansial.
Peningkatan ini juga didukung oleh bertambahnya jumlah pengguna LCT secara signifikan. Jumlah pengguna mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan. Angka ini melampaui rata-rata bulanan tahun 2025 yang sebesar 9.720 pengguna, menandakan adopsi pasar yang semakin luas. “Pertumbuhan ini juga didukung peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan, jauh di atas rata-rata bulanan tahun 2025 sebesar 9.720 pengguna,” kata Ferry.
Strategi Pemerintah dalam Mengoptimalkan Pemanfaatan LCT
Implementasi LCT didukung oleh tiga komponen utama yang saling terkait untuk memastikan kelancaran dan efektivitasnya. Komponen-komponen tersebut meliputi fleksibilitas Foreign Exchange Administration (FEA), Mekanisme Pengawasan dan Pemantauan, serta Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Ketiga pilar ini menjadi fondasi penting bagi operasional LCT di Indonesia.
Untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan LCT, Pemerintah Indonesia telah membentuk Gugus Tugas LCT Nasional. Gugus tugas ini terdiri dari 10 kementerian dan lembaga yang bekerja sama untuk memperkuat koordinasi, mendukung pengembangan kebijakan, dan mempercepat adopsi transaksi mata uang lokal. Fokus utama gugus tugas ini adalah pada kegiatan ekspor-impor, yang merupakan tulang punggung perdagangan internasional.
Melalui LCT, pemerintah berkomitmen menyediakan fasilitas, insentif, dan proses yang disederhanakan bagi pelaku bisnis. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya transaksi, dan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sumber: AntaraNews