Janji Manis Trump Ogah Perang & Damaikan Timur Tengah, Kini Malah Ikut Israel Serang Iran
Donald Trump 'ingkari janji' jaga perdamaian setelah putuskan ikut menyerang Iran.
Eskalasi perang antara Iran dan Israel meningkat dan memasuki babak baru setelah Amerika Serikat (AS) mengebom tiga lokasi yang mereka klaim sebagai fasilitas nuklir di Iran pada Minggu, 22 Juni 2025.
Gedung Putih menyatakan serangan tersebut menimbulkan kerusakan parah pada terget operasi. Langkah 'ikut campur' AS dalam konflik Iran vs Israel membuat situasi di Timur Tengah pun semakin memanas.
Padahal, Presiden AS Donald Trump sempat berjanji akan menghentikan konflik di Timur Tengah dan mengklaim akan menjadi pihak yang mendukung perdamaian. Hal tersebut pernah disampaikan Trump saat pidato pelantikannya pada 20 Januari 2025.
"Kita akan mengukur keberhasilan kita tidak hanya dari pertempuran yang kita menangkan, tetapi juga dari perang yang kita akhiri - dan mungkin yang terpenting, perang yang tidak pernah kita lakukan," kata Trump dikutip dari laman cnbc.com (23/6).
Trump sempat menyebut dengan bangga dia akan membawa AS sebagai pihak pembawa perdamaian dan pemersatu. Namun, serangan yang dilakukan AS baru-baru ini ke wilayah Iran menandai perubahan besar dari janji Trump sebelumnya untuk menjauhkan AS dari perang.
Keputusan itu juga merupakan perubahan tajam dari janji kampanye-nya untuk mencegah Perang Dunia Ketiga dan mengakhiri kekacauan Timur Tengah.
"Saya akan menghentikan kekacauan di Timur Tengah, dan saya akan mencegah perang dunia ketiga. Anda sangat dekat dengan Perang Dunia," kata Trump pada saat itu.
"Saya menginginkan perdamaian di Timur Tengah. Saya menginginkan perdamaian. Saya telah melakukan Perjanjian Abraham. Saya menginginkan perdamaian di Timur Tengah," tambahnya.
Janji perdamaian Trump terus dipertanyakan setelah AS turut menjatuhkan bom di tanah Iran. Apalagi, serangan itu dilakukan hanya 48 jam setelah Trump menyebut AS akan menunggu dua minggu untuk melihat apakah konflik antara Israel dan Iran dapat diselesaikan secara diplomatis.
Serangan AS ke Iran
Diketahui, jika AS melakukan serangan ke tiga lokasi yang mereka klaim sebagai fasilitas nuklir milik Iran yakni, Natanz, Fordow, dan Isfahan. AS menggunakan pesawat pengebom B-2 membawa bom GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP) seberat 30.000 pon dengan daya ledak 6.000 pon.
Trump mengonfirmasi tindakan tersebut dalam sebuah unggahan di Truth Social, dengan mengatakan operasi tersebut menjatuhkan sejumlah besar bom dan menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan di wilayah yang ditargetkan.
Sementara itu, Iran memastikan tidak ada bahan radioaktif di lokasi yang menjadi sasaran pengeboman AS. Bahan aktif yang menyebabkan radiasi itu diperkirakan telah dikeluarkan sebelum dibom.
Hal itu disampaikan kantor berita IRNA mengutip dari pernyataan seorang pejabat lembaga penyiaran Iran. "Tidak ada bahan di ketiga lokasi nuklir ini yang menyebabkan radiasi," ungkapnya, seperti dikutip Aljazeera, Senin (23/6).
Iran langsung melancarkan serangan balas dendam usai serangan AS ke wilayahnya. Dilaporkan roket dan pecahan peluru Iran jatuh di 10 lokasi di Israel. Lokasi tersebut termasuk Carmel, Haifa, wilayah Tel Aviv, dan dataran pantai utara, dikutip dari Aljazeera, Minggu (22/6/2025).
Diketahui, jika perang pecah pada 13 Juni lalu ketika Israel melancarkan serangan udara di beberapa lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir yang mendorong Teheran untuk meluncurkan serangan balasan.