Bank Indonesia: Sektor Pertanian Tulang Punggung Ekonomi Nasional, Kinerja Positif Terus Menguat
Bank Indonesia dan Kementerian Pertanian sepakat sektor pertanian tulang punggung ekonomi nasional, menunjukkan kinerja positif dan pertumbuhan signifikan, bahkan menjadi penopang utama di tengah tekanan ekonomi.
Bank Indonesia (BI) menegaskan sektor pertanian berperan strategis sebagai tulang punggung ketahanan ekonomi nasional. Pernyataan ini merujuk pada hasil Surveai Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis oleh lembaga negara tersebut. Kinerja positif sektor ini terlihat jelas pada triwulan I 2026.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, mengungkapkan aktivitas dunia usaha tetap berada di zona positif dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen pada triwulan I 2026. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu lapangan usaha utama yang menunjukkan kinerja impresif. Peningkatan ini didorong oleh permintaan masyarakat yang tinggi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman turut mengamini capaian tersebut, menyatakan pertanian bukan hanya penyangga, tetapi penggerak utama ekonomi nasional. Berbagai langkah strategis pemerintah telah memperkuat sektor ini. Hal ini membuktikan bahwa pertanian semakin kuat dan menjadi fondasi ekonomi.
Kinerja Positif Sektor Pertanian di Tengah Tantangan Global
Hasil SKDU Bank Indonesia mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 tetap terjaga, meskipun sedikit menurun dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 10,61 persen. Mayoritas lapangan usaha menunjukkan kinerja positif, terutama sektor jasa keuangan, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran.
Terjaganya aktivitas usaha tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan nasional, seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. Kondisi ini beriringan dengan musim panen yang mendukung peningkatan produksi.
Dari sisi operasional, kapasitas produksi terpakai pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 73,33 persen, meningkat dibandingkan 73,15 persen pada triwulan sebelumnya. Peningkatan ini terutama ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, serta industri pengolahan. Kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai tetap baik, baik dari sisi likuiditas maupun rentabilitas, didukung akses pembiayaan yang relatif lebih mudah.
Memasuki triwulan II 2026, dunia usaha diperkirakan mengalami peningkatan kinerja, dengan Bank Indonesia memproyeksikan SBT mencapai 14,80 persen. Peningkatan ini didorong oleh sektor pertanian, seiring berlanjutnya musim panen komoditas pangan dan tanaman perkebunan.
Strategi Pemerintah Perkuat Pertanian Nasional
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian positif ini membuktikan sektor pertanian semakin kuat dan berperan sebagai fondasi utama ekonomi nasional. Ia menyatakan bahwa pertanian hari ini bukan hanya penyangga, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Ketika sektor lain mengalami tekanan, pertanian justru hadir sebagai solusi dan penopang utama.
Penguatan sektor pertanian tidak terlepas dari berbagai langkah strategis yang telah dijalankan pemerintah secara terstruktur dan berkelanjutan. Langkah-langkah tersebut meliputi percepatan tanam, optimalisasi lahan, program pompanisasi, serta perbaikan irigasi dan distribusi pupuk.
Hasil dari strategi ini mulai terlihat dan diakui oleh berbagai pihak, dengan peningkatan produksi, perlindungan petani, dan ketersediaan pangan yang tetap terjaga. Pemerintah memastikan produksi meningkat, petani terlindungi, dan pangan tetap tersedia bagi masyarakat.
Pertanian Indonesia Berdaya Saing Global dan Mandiri Pangan
Berdasarkan nilai ekspor sektor pertanian (segar dan olahan) pada tahun 2025, terjadi kenaikan signifikan sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen. Sementara itu, impor turun sebesar Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66 persen.
Kinerja ini memperlihatkan sektor pertanian Indonesia semakin kompetitif di pasar global, sekaligus mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri. Hal ini menunjukkan kemandirian pangan Indonesia yang semakin kuat.
Mentan Amran menegaskan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi besar yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, bukan hanya kerja satu program. Ia menyebutnya sebagai orkestrasi besar yang menghasilkan peningkatan produksi, ekspor yang meningkat tajam, dan penekanan impor.
Produksi komoditas utama seperti padi dan jagung mengalami peningkatan, dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam kondisi sangat aman. CBP yang menyentuh angka 5 juta ton menunjukkan tren positif kinerja ekspor, seiring pengendalian impor yang semakin efektif.
Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Kontribusi PDB
Kinerja positif juga terlihat dari sisi kesejahteraan petani, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 34 tahun terakhir, menandakan daya beli dan pendapatan petani meningkat secara signifikan.
Sementara itu, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang impresif. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian pada tahun 2025 tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Ini menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan. Mentan Amran Sulaiman menekankan bahwa jika pertanian kuat, ekonomi nasional pasti kuat, dan ini yang akan terus dijaga serta dipercepat.
Sumber: AntaraNews