Nasib Pilu Remaja Yatim Piatu di Surabaya, Tewas Dikeroyok Teman Sekolah Cuma Gara-Gara Sandal

Pengeroyokan ternyata rupanya tak berhenti di situ saja, korban saat itu diduga dipakasa menuju ke suatu area sepi kawasan Jalan Tengger.

Erwin Yohanes
Oleh Erwin Yohanes - Reporter
Nasib Pilu Remaja Yatim Piatu di Surabaya, Tewas Dikeroyok Teman Sekolah Cuma Gara-Gara Sandal
Nasib Pilu Remaja Yatim Piatu di Surabaya, Tewas Dikeroyok Teman Sekolah Cuma Gara-Gara Sandal (Merdeka.com)

Nasib pilu dialami oleh Thomas Julianus Kristianto, seorang remaja berumur 19 tahun, warga Jl Manukan Yoso II, Surabaya ini harus meregang nyawa di tangan teman-temannya sendiri. Pemuda yang berstatus sebagai anak yatim piatu itu sempat dinyatakan koma selama lima hari lamanya di rumah sakit, usai mengalami insiden pengeroyokan.

Nahasnya, peristiwa yang merenggut korban jiwa ini dipicu oleh masalah sepele. Hanya karena persoalan ganti rugi sandal milik salah satu pengeroyok.

Cerita penganiayaan terhadap Thomas itu bermula saat korban berpamitan pada keluarga untuk keluar rumah sendirian menuju kawasan Jalan Manukan Mukti, sekitar pukul 23.00 WIB, pada Sabtu (30/5) lalu. Menurut Nia Sanjaya (38), tetangga korban, Thomas diketahui berjalan sendirian hendak membeli minuman ringan di toko kelontong depan gapura gang rumahnya. 

Kakak sulung korban, Hana Novia Kristiani (32) mengatakan, masalah ini dipicu oleh masalah sepele, yakni soal ganti rugi sandal pelaku yang sempat dipakai oleh korban. Bahkan, persoalan itu dianggapnya sudah selesai lantaran sang adik telah mengganti sandal milik pelaku. Persoalan itu diakuinya terjadi pada pertengahan Mei lalu.

"Masalah itu harusnya sudah selesai. Karena dia (korban) sudah mengganti rugi berupa sandal baru. Mungkin sandal itu tidak sesuai dengan kemauannya (pelaku) karena harganya tidak sesuai dengan sandalnya," ungkapnya.

Ia pun sempat menyayangkan tindakan pelaku yang anarkis berujung dengan hilangnya nyawa sang adik.

Pengeroyokan ternyata rupanya tak berhenti di situ saja, korban saat itu diduga dipakasa menuju ke suatu area sepi kawasan Jalan Tengger, sekitar pukul 02.00 WIB, pada Minggu (31/5). 

Dianiaya Hingga Pingsan

Di tempat itu, para pelaku pun kembali menganiaya korban hingga pingsan. Kondisi ini, disebut sempat membuat panik para pengeroyoknya. Mereka bahkan sempat membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat dengan menggunakan motor.

Namun, di tengah perjalanan tubuh korban ambruk ke belakang hingga terjatuh ke tanah. Dan, korban tetap saja lunglai, lemas, dan tak sadarkan diri. 

"Setelah itu ditaruh di belakang sempat terjatuh katanya. Itu dalam keadaan dia sudah enggak sadar gitu. Setelah itu dia digeletakkan di dekatnya toko yang jualan sembako," ujarnya.

Setibanya di rumah sakit tersebut, korban sempat mendapatkan penanganan medis awal. Para pelaku pun, disebutnya juga sempat menghubungi temannya yang juga merupakan tetangga korban, untuk memberitahukan kondisinya.

Namun, kondisi korban yang tak kunjung membaik, membuatnya harus dirujuk ke rumah sakit dr Soetomo. Di rumah sakit itu, korban disebutnya sempat menjalani operasi.Namun, belakang diketahui kondisi korban semakin memburuk bahkan beberapa organ tubuh korban semakin menurun fungsinya. 

Korban Meninggal Dunia

Korban pun akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 04.11 WIB, pada Kamis (4/6/2026), setelah koma selama hampir lima hari. 

"Itu kondisinya sudah menurun. Sudah dioperasi. Karena tempurung otaknya itu sudah retak. Jadi diotaknya itu terjadi pembengkakan. Itu akibat pemukulan dari benda tumpul. Infonya sih seperti itu," jelasnya. 

Korban diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil, korban sudah tidak memiliki orangtua. Dan selama ini, korban diasuh oleh tante dan kakek serta neneknya. 

Terpisah, Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Raditya Herlambang menyatakan empat pelaku yang mengeroyok korban telah ditangkap dan dilakukan penahanan. "Sudah tersangka dan sudah ditahan semua," katanya.

Keempat pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu diketahui berinisial CFJ, AAY, KVRL, dan RU. Keempat pelaku diketahui juga merupakan teman satu sekolah korban yakni di SMAN 11 Surabaya. Semuanya, korban dan keempat pelaku, baru saja dinyatakan lulus dari sekolah tersebut.

Rekomendasi