Mentan: Hilirisasi Sektor Pertanian Kunci Peningkatan Ekspor 38,25% dan Kesejahteraan Petani
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tegaskan hilirisasi sektor pertanian vital untuk dongkrak ekspor hingga 38,25% dan kesejahteraan petani, didukung investasi triliunan rupiah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini menegaskan urgensi hilirisasi sektor pertanian sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat daya saing ekspor, dan secara signifikan memperbaiki taraf hidup petani di seluruh Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta pada Jumat (04/10), menggarisbawahi komitmen pemerintah.
Langkah strategis ini bertujuan untuk mengubah pola ekspor Indonesia yang selama ini didominasi oleh bahan mentah menjadi produk olahan dengan nilai jual lebih tinggi. Amran menekankan bahwa hilirisasi akan membuka lebih banyak lapangan kerja baru dan memperkuat ekonomi lokal di berbagai daerah. Ini merupakan upaya konkret untuk mengoptimalkan potensi besar sektor pertanian Tanah Air.
Untuk mendukung program ambisius ini, pemerintah telah menyiapkan skema investasi fantastis senilai Rp371,6 triliun. Dana besar ini akan dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur hilirisasi, memastikan ketahanan pangan nasional, serta memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci di pasar global. Pendanaan ini berasal dari berbagai sumber, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), BUMN, dan sektor swasta.
Strategi Hilirisasi untuk Nilai Tambah Ekspor
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara tegas menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia memimpin proses hilirisasi komoditas pertaniannya sendiri. Selama ini, Indonesia cenderung mengekspor bahan mentah yang kemudian diolah di negara lain, sehingga nilai tambahnya dinikmati pihak asing. "Kita dorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah ekspor," kata Mentan Amran.
Amran menambahkan bahwa praktik tersebut menyebabkan Indonesia kehilangan potensi pendapatan berlipat ganda. Negara pengimpor bahan mentah kemudian mengekspor kembali produk olahan tersebut dengan nilai yang puluhan kali lipat lebih tinggi. Oleh karena itu, strategi hilirisasi sektor pertanian menjadi krusial untuk mengoptimalkan keuntungan bagi negara dan masyarakat.
Melalui hilirisasi, produk pertanian Indonesia tidak hanya akan memiliki daya saing yang lebih baik di pasar internasional, tetapi juga akan menciptakan rantai nilai yang lebih panjang di dalam negeri. Ini mencakup peningkatan kapasitas pengolahan, pengembangan teknologi, serta penciptaan produk-produk inovatif dari hasil pertanian. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah perdagangan global.
Skema Investasi Triliunan Rupiah untuk Pertanian
Pemerintah tidak main-main dalam mewujudkan program hilirisasi sektor pertanian ini, terbukti dengan alokasi investasi sebesar Rp371,6 triliun. Anggaran kolosal ini dirancang untuk mendukung berbagai inisiatif, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga pengembangan teknologi pengolahan. Tujuannya adalah untuk memastikan keberlanjutan program dan dampak positif yang maksimal.
Pendanaan sebesar itu akan dipenuhi melalui kombinasi berbagai sumber, menunjukkan sinergi antara pemerintah dan sektor swasta. Rincian investasi Rp371,6 triliun tersebut terdiri dari:
- Dana KUR: Rp189,462 triliun (51%)
- Sektor Swasta: Rp92,966 triliun (25%)
- BUMN: Rp89,172 triliun (24%)
Beberapa komoditas perkebunan utama yang akan menjadi fokus hilirisasi oleh Kementerian Pertanian meliputi kelapa dalam, kakao, mete, kopi, tebu, kelapa sawit, lada/pala, dan ubi kayu. Pemilihan komoditas ini didasarkan pada potensi nilai tambah yang besar serta ketersediaan bahan baku yang melimpah di Indonesia. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan pada komoditas-komoditas tersebut.
Kinerja Positif Sektor Pertanian dan Peningkatan Ekspor
Sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang sangat positif, tidak hanya dalam hal produksi tetapi juga dalam pertumbuhan ekspor. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi tren kenaikan ini, memberikan optimisme terhadap prospek masa depan pertanian nasional. Peningkatan ini menjadi bukti nyata dari potensi besar sektor ini.
BPS mencatat bahwa ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh signifikan sebesar 38,25 persen pada periode Januari-Agustus 2025. Nilainya mencapai 4,57 miliar dolar AS, jauh melampaui 3,30 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. "Selanjutnya ekspor non migas menurut sektor Agustus 2025 total 23,89 miliar dolar AS dirinci menurut sektor pertanian, kehutanan, perikanan dengan kontribusi 0,60 miliar dolar AS," ujar Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, pada Rabu (1/10).
Secara bulanan, nilai ekspor sektor pertanian pada Agustus 2025 mencapai 0,6 miliar dolar AS, naik 10,98 persen dibandingkan Agustus 2024 yang sebesar 0,54 miliar dolar AS. Kenaikan ini juga sejalan dengan peningkatan nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan, yang pada Agustus 2025 mencapai 24,96 miliar dolar AS, naik 5,78 persen dibandingkan Agustus 2024. Data ini menunjukkan konsistensi pertumbuhan.
Peningkatan Produksi dan Kesejahteraan Petani
Selain pertumbuhan ekspor pertanian, sektor pertanian juga mencatatkan lonjakan signifikan pada produksi beras nasional, yang merupakan indikator penting ketahanan pangan. BPS memperkirakan produksi beras pada periode Januari-November 2025 akan mencapai 33,19 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 12,62 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.
Peningkatan produksi beras ini tidak hanya menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas harga. Kenaikan produksi ini merupakan hasil dari berbagai program pemerintah dan kerja keras para petani di seluruh Indonesia. Ini juga menunjukkan efektivitas kebijakan yang telah diterapkan.
Lebih lanjut, kesejahteraan petani juga menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Berdasarkan data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2025 tercatat sebesar 124,36. Angka ini naik 0,63 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 123,57, menandakan daya beli dan pendapatan petani yang semakin baik. Peningkatan NTP ini menjadi bukti nyata dampak positif dari kebijakan pertanian.
Sumber: AntaraNews