Mentan Amran Tegaskan Hilirisasi Pertanian Kunci Indonesia Jadi Negara Kuat dan Mandiri
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan hilirisasi pertanian adalah strategi utama untuk memperkuat ekonomi nasional, menjaga ketahanan pangan, dan mencapai kemandirian energi di tengah dinamika global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya hilirisasi sebagai kunci utama bagi Indonesia untuk menjadi negara kuat. Strategi ini bertujuan memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, serta menjaga ketahanan pangan di tengah dinamika global yang terus berubah. Pernyataan ini disampaikan Mentan di Jakarta pada Sabtu, 28 Maret.
Menurut Amran, Indonesia tidak seharusnya lagi hanya mengekspor bahan mentah dari berbagai komoditas. Sebaliknya, proses hilirisasi harus dioptimalkan agar nilai tambah dari produk-produk tersebut dapat dinikmati sepenuhnya di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian bangsa.
Hilirisasi mencakup pengolahan komoditas unggulan seperti kelapa, kelapa sawit (CPO), dan gambir menjadi produk turunan bernilai tinggi. Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan daya saing di pasar internasional dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Potensi Besar Komoditas Unggulan Melalui Hilirisasi Pertanian
Indonesia memiliki potensi besar dalam berbagai komoditas pertanian yang dapat dioptimalkan melalui hilirisasi. Kelapa, kelapa sawit (CPO), dan gambir merupakan beberapa contoh komoditas strategis yang mampu memberikan nilai tambah signifikan. Pengolahan lebih lanjut akan mengubah produk mentah menjadi barang jadi yang memiliki harga jual jauh lebih tinggi.
Mentan Amran menyoroti bahwa Indonesia menguasai pasar kelapa dunia, namun seringkali mengekspor kelapa dalam bentuk utuh. Apabila kelapa diolah menjadi virgin coconut oil, santan, atau air kelapa kemasan, nilainya bisa meningkat puluhan hingga ratusan kali lipat. Air kelapa, yang bahan bakunya melimpah di Indonesia, kini dijual mahal di luar negeri hanya karena kemasan menarik.
Selain kelapa, Indonesia juga mendominasi sekitar 80 persen pasar gambir dunia. Namun, gambir masih diekspor dalam bentuk setengah jadi, menyebabkan nilai tambah tertinggi dinikmati oleh negara lain. Hilirisasi gambir berpotensi menghasilkan nilai triliunan rupiah, menegaskan bahwa keuntungan terbesar ada di sektor hilir, bukan hulu.
Potensi besar juga terdapat pada kelapa sawit (CPO), di mana Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi global. Jika CPO diolah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Posisi dominan ini memungkinkan Indonesia untuk menentukan peta ekonomi global.
Dampak Positif Hilirisasi untuk Kemandirian Bangsa
Hilirisasi tidak hanya bertujuan memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat. Proses ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani yang menjadi ujung tombak produksi komoditas. Peningkatan nilai jual produk akan secara langsung berimbas pada pendapatan petani.
Selain itu, hilirisasi juga berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor industri pengolahan. Dengan adanya pabrik pengolahan dan industri turunan, akan terbuka banyak kesempatan kerja bagi masyarakat. Ini akan berkontribusi pada penurunan angka pengangguran dan peningkatan kualitas hidup.
Secara internasional, hilirisasi akan memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Dengan menghasilkan produk jadi yang bernilai tinggi, Indonesia dapat menjadi pemain utama di pasar dunia, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah. Ini akan meningkatkan daya tawar dan pengaruh Indonesia dalam perdagangan global.
Mentan Amran menegaskan bahwa hilirisasi adalah bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia negara yang mandiri. Melalui strategi ini, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh serta berkelanjutan.
Tantangan dan Kontribusi Indonesia pada Ketahanan Pangan Global
Perjalanan menuju swasembada dan hilirisasi memang tidak selalu mudah, menghadapi berbagai tantangan. Ada pihak-pihak yang mungkin tidak senang ketika Indonesia berhenti mengimpor dan mulai mencapai kemandirian. Namun, pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan program hilirisasi, swasembada pangan, dan kemandirian energi.
Keberhasilan Indonesia dalam memperkuat sektor pangan bahkan telah memberikan dampak signifikan terhadap harga pangan dunia. Mentan Amran menyebutkan bahwa Indonesia berhasil mengurangi impor beras secara signifikan, yang berdampak pada penurunan harga beras global. Harga beras dunia yang sebelumnya mencapai 660 dolar AS per ton, kini turun menjadi 340 dolar AS per ton.
Langkah Indonesia menghentikan impor beras hingga 7 juta ton, setara sekitar Rp100 triliun, telah mendorong penurunan harga beras dunia hingga sekitar 44 persen. Kontribusi ini diakui secara internasional melalui penghargaan ketahanan pangan dunia dari FAO selama dua tahun berturut-turut, 2024–2025.
Pengakuan ini menarik minat kerja sama pangan dari berbagai negara seperti Jepang, Kanada, Chile, dan Belarus, yang datang untuk belajar dari keberhasilan Indonesia. Mentan Amran menekankan bahwa ketahanan pangan sangat strategis, karena krisis pangan dapat memicu krisis politik dan sosial, bahkan keruntuhan negara.
Sumber: AntaraNews