Kompak Sahabat Penyu Latih Warga Desa Nepo: Pemanfaatan Mangrove Polewali Mandar Dorong Ekonomi Pesisir Berkelanjutan
Kompak Sahabat Penyu Polewali Mandar menggelar pelatihan inovatif di Desa Nepo, mengedukasi masyarakat tentang Pemanfaatan Mangrove Polewali Mandar untuk kemandirian ekonomi pesisir dan mendukung agenda iklim nasional.
Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (Kompak) Sahabat Penyu Kabupaten Polewali Mandar baru-baru ini menggelar pelatihan pemanfaatan mangrove. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir di Sulawesi Barat. Pelatihan inovatif ini dilaksanakan di Desa Nepo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar.
Ketua Panitia Pelaksana, Askar Al Qadri, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan langkah nyata. Tujuannya adalah mendukung agenda iklim nasional dan target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kelestarian hutan mangrove memiliki peran krusial dalam menyerap emisi karbon.
Selain itu, mangrove juga sangat penting untuk menopang kehidupan warga pesisir. Pelatihan ini diharapkan dapat membuka cakrawala baru bagi warga. Mereka diajak memanfaatkan potensi lingkungan tanpa merusaknya.
Inovasi Ekonomi Biru untuk Kesejahteraan Pesisir
Pelatihan ini mengusung tema "Mangrove Lestari Masyarakat Sejahtera". Ini adalah bagian dari inovasi membangun ekonomi biru. Kegiatan ini berfokus pada Pemanfaatan Mangrove Polewali Mandar secara berkelanjutan.
Askar Al Qadri menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar pemberdayaan ekonomi biasa. Ini adalah kontribusi signifikan untuk mencapai target iklim nasional. Mangrove memiliki peran ganda yang sangat penting.
Fungsinya mencakup penyerapan emisi karbon dan penyokong utama kehidupan masyarakat pesisir. Oleh karena itu, menjaga kelestarian ekosistem ini menjadi prioritas utama. Pelatihan Pemanfaatan Mangrove Polewali Mandar ini menjadi jembatan antara konservasi dan kesejahteraan.
Menggali Potensi Desa dan Ekowisata Mangrove
Tiga narasumber ahli dihadirkan dalam pelatihan ini. Mereka mengupas tuntas potensi ekonomi biru dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah Baso Matturungan dari Dinas PMD Kabupaten Polewali Mandar.
Baso Matturungan memaparkan materi tentang potensi desa. Ia memetakan cara Desa Nepo dapat mengintegrasikan program pemberdayaan masyarakat. Ini dilakukan selaras dengan kebijakan daerah demi kemandirian ekonomi desa.
Putra Ardiansyah, Founder Laut Biru, menjelaskan fungsi vital mangrove. Ia juga menguraikan dampak ekonominya bagi masyarakat pesisir. Penjelasan ini memberikan pemahaman komprehensif kepada peserta tentang nilai Pemanfaatan Mangrove Polewali Mandar.
Yusri Mampie, Founder Sahabat Penyu, fokus pada ekowisata berbasis masyarakat. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif warga lokal. Tujuannya adalah mengelola kawasan mangrove menjadi destinasi wisata.
Masyarakat sebagai Aktor Utama Konservasi dan Ekonomi
Yusri Mampie menegaskan bahwa perputaran ekonomi harus dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Hal ini akan terjadi jika warga terlibat aktif dalam pengelolaan ekowisata. Pelatihan ini dirancang untuk mencapai tujuan tersebut.
“Melalui pelatihan ini diharapkan masyarakat Desa Nepo tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor utama dalam menjaga kelestarian mangrove sekaligus motor penggerak kemandirian ekonomi di wilayah pesisir Polewali Mandar,” kata Yusri.
Kepala Desa Nepo, Nurhayati, sangat mengapresiasi inisiatif Kompak Sahabat Penyu. Ia berterima kasih karena Desa Nepo dipilih sebagai lokasi pelatihan. Ini menunjukkan potensi besar desa tersebut dalam mendukung Pemanfaatan Mangrove Polewali Mandar.
Nurhayati berharap pelatihan ini dapat membuka cakrawala baru bagi warganya. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan potensi lingkungan secara bijak. Tujuannya adalah tanpa merusak kelestarian alam.
Sumber: AntaraNews