PPIT Dorong Generasi Muda Indonesia Adopsi Budaya Kerja Tiongkok untuk Daya Saing Global
Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur, menekankan pentingnya generasi muda Indonesia mengadopsi etos dan Budaya Kerja Tiongkok agar tidak hanya menjadi pasar global.
Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur, mendorong generasi muda Indonesia untuk mengadopsi etos dan budaya kerja keras masyarakat Tiongkok dalam berbagai bidang, termasuk penelitian. Hal ini penting agar Indonesia tidak terus-menerus hanya menjadi pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Al Busyra saat diwawancarai di Bandung pada Selasa (03/6). Mantan diplomat senior ini menyoroti akselerasi kemajuan ekonomi Tiongkok yang dicapai dalam beberapa dekade terakhir, yang tidak lepas dari tingginya disiplin dan daya saing sumber daya manusia (SDM) mereka di dunia kerja.
Menurutnya, Budaya Kerja Tiongkok yang tidak membuang waktu dan memiliki disiplin tinggi adalah kunci keberhasilan. Oleh karena itu, daya kerja dan daya saing anak-anak muda Indonesia harus lebih ditingkatkan secara signifikan.
Menguak Rahasia Kemajuan Ekonomi Tiongkok
Al Busyra Basnur, dengan rekam jejak diplomatik hampir empat dekade, menilai bahwa kemajuan pesat ekonomi Tiongkok tidak lepas dari etos kerja masyarakatnya. Mereka dikenal sebagai pekerja keras yang sangat menghargai waktu dan memiliki tingkat disiplin tinggi.
"Budaya kerja masyarakat di Tiongkok perlu kita pelajari. Mereka adalah pekerja keras yang tidak pernah membuang-buang waktu, dan disiplin waktunya sangat tinggi," ujar Al Busyra. Ia menambahkan bahwa daya kerja dan daya saing generasi muda Indonesia perlu ditingkatkan.
Disiplin dan etos kerja ini telah mendorong Tiongkok menjadi kekuatan ekonomi global dalam beberapa dekade terakhir. Keberhasilan ini menjadi cerminan nyata dari dampak positif Budaya Kerja Tiongkok yang diterapkan secara konsisten.
Dengan mempelajari dan mengadaptasi aspek-aspek positif dari Budaya Kerja Tiongkok, Indonesia diharapkan dapat mempercepat laju pembangunan ekonominya. Ini juga akan memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi internasional.
Potensi Besar Indonesia dan Tantangan Etos Kerja
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Potensi ini mencakup cadangan ekonomi berupa ketersediaan bahan baku (raw material), jejaring internasional, hingga kualitas pendidikan.
Namun, Al Busyra menilai bahwa potensi besar tersebut belum optimal karena Indonesia masih kalah bersaing dalam hal etos kerja. Pembenahan mentalitas kerja menjadi krusial agar dominasi ekonomi asing dapat dibendung.
"Indonesia potensinya sangat besar. Tetapi untuk kemajuan ekonomi nasional, kita perlu banyak melihat, belajar, dan memperkuat diri dengan mencontoh banyak negara di dunia, termasuk Tiongkok," kata Al Busyra. Belajar cara bekerja dari mereka menjadi sangat penting.
Jika pembenahan mentalitas kerja ini tidak segera dilakukan, maka dominasi ekonomi asing akan sulit dibendung. Adopsi Budaya Kerja Tiongkok bisa menjadi salah satu solusi strategis untuk mengatasi tantangan ini.
Peran Bahasa Mandarin dan Kesenjangan Pendidikan
Lebih lanjut, Al Busyra juga menyoroti sektor pendidikan, khususnya penguasaan bahasa Mandarin, yang kini menjadi magnet profesi. Kemampuan berbahasa Mandarin menjanjikan pendapatan premium di pasar tenaga kerja domestik.
"Saya mendapatkan informasi, tenaga kerja Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin dan bekerja di perusahaan Tiongkok di Indonesia, gajinya jauh lebih besar daripada pegawai yang tidak bisa," ungkap Al Busyra. Ini menunjukkan nilai tambah signifikan dari penguasaan bahasa tersebut.
Kesenjangan juga terlihat pada arus pertukaran pelajar antara kedua negara. Jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Tiongkok telah menembus angka hampir 20.000 orang berkat besarnya stimulus beasiswa dari pemerintah setempat, sementara jumlah mahasiswa Tiongkok yang belajar di Indonesia masih sangat minim.
Ketidakseimbangan ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk mendorong pertukaran budaya dan pendidikan yang lebih seimbang. Penguasaan bahasa dan keterampilan menjadi penentu jaminan masa depan profesi.
Komitmen PPIT untuk Pembenahan Nasional
Menyikapi realitas tersebut, PPIT berkomitmen untuk terus menjembatani konektivitas antarmasyarakat (people-to-people connectivity). Hal ini termasuk mendorong keseimbangan pemberian beasiswa bahasa bagi mahasiswa kedua negara.
"Jujur, Indonesia masih banyak yang harus dibenahi, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari sisi pendidikan," kata Al Busyra. Momentum ini harus digunakan untuk merenung dan membenahi diri secara menyeluruh.
Inisiatif PPIT ini diharapkan dapat memicu kesadaran kolektif akan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ini juga akan memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok di berbagai sektor.
Dengan fokus pada perbaikan etos kerja dan pendidikan, Indonesia dapat bertransformasi menjadi negara yang lebih kompetitif. Ini akan memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain kunci di panggung global.
Sumber: AntaraNews