Mentalitas dan Kesehatan Jadi Hambatan Utama Serapan Kerja Kaltim
Kepala Disnakertrans Kaltim menyoroti mentalitas dan kesehatan sebagai faktor krusial yang menghambat serapan kerja muda lokal di industri. Simak tantangan SDM Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Timur, Rozani Erawadi, menyoroti kendala serius bagi tenaga kerja muda lokal. Mentalitas dan kondisi kesehatan masih menjadi penghambat utama dalam menembus pasar industri di wilayah tersebut.
Hal ini diungkapkan Rozani di Samarinda pada Minggu, 1 Februari. Ia menekankan bahwa aspek soft skill dan etos kerja yang rendah seringkali membuat pekerja muda sulit beradaptasi dengan tuntutan dunia usaha.
Fenomena pengunduran diri yang mudah dan kegagalan seleksi kesehatan menjadi indikator masalah ini. Padahal, peluang kenaikan jabatan dan program pelatihan vokasi telah digalakkan oleh pemerintah daerah.
Tantangan Mentalitas dan Etos Kerja
Rozani Erawadi mengungkapkan bahwa soft skill dan etos kerja menjadi titik lemah bagi tenaga kerja muda di Kalimantan Timur. Kondisi ini menyebabkan mereka kesulitan beradaptasi dengan target tinggi yang ditetapkan oleh dunia usaha.
Banyak pekerja muda cenderung mudah mengundurkan diri ketika merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerja. Fenomena ini terjadi meskipun sebenarnya peluang untuk kenaikan jabatan terbuka lebar bagi mereka yang bertahan dan berprestasi.
Kurangnya ketahanan mental ini menjadi perhatian serius bagi Disnakertrans Kaltim. Hal ini berdampak langsung pada produktivitas dan stabilitas tenaga kerja di sektor industri lokal.
Isu Kesehatan Menghambat Peluang Kerja
Selain mentalitas, faktor kesehatan juga menjadi rapor merah dalam seleksi tenaga kerja di Kalimantan Timur. Rozani menemukan fakta ini dari perbincangan dengan para Manajer Sumber Daya Manusia (HRD) perusahaan di Kaltim.
Tidak sedikit pelamar kerja yang gagal dalam tahap seleksi karena menderita penyakit degeneratif di usia muda. Indikasi penyakit menular seperti TBC juga menjadi alasan penolakan.
Kondisi kesehatan yang kurang prima ini menjadi penghalang signifikan bagi calon pekerja. Hal ini menunjukkan pentingnya pola hidup sehat sejak dini untuk mempersiapkan diri menghadapi bursa kerja.
Upaya Pemerintah dan Peluang yang Belum Dimanfaatkan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah berupaya masif meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan vokasi. Pelatihan ini diselenggarakan di Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Balikpapan dan Bontang.
Hingga periode 2024-2025, total peserta pelatihan berbasis kompetensi di berbagai wilayah Kaltim telah mencapai sekitar 2.000 orang. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja yang terampil.
Meski demikian, Rozani menyayangkan rendahnya minat warga Kaltim untuk menjadi pekerja migran ke Jepang, Korea, maupun Eropa, padahal peluangnya terbuka. Di sisi lain, program magang nasional mencatatkan kenaikan minat hingga 500 persen, namun beberapa lowongan tetap tidak terisi.
Guna menekan angka pengangguran, Disnakertrans Kaltim menyediakan aplikasi Etam Kerja. Platform ini berfungsi sebagai wadah resmi bagi pencari kerja untuk berinteraksi langsung dengan perusahaan. Pencari kerja diimbau untuk selalu memverifikasi keabsahan lowongan melalui kanal resmi guna menghindari penipuan.
Rozani menekankan bahwa kesiapan fisik dan mental yang tangguh merupakan kunci bagi SDM Kaltim. Ini penting untuk memenangi persaingan bursa kerja, khususnya untuk tahun 2026. Optimalisasi pendidikan formal dan pelatihan vokasi harus berjalan beriringan dengan perbaikan pola hidup sehat bagi para calon pekerja.
Sumber: AntaraNews