Kaltim Matangkan Dua Pendekatan Strategis Hadapi Transisi Pekerja Hijau
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kaltim sedang menyiapkan dua strategi krusial untuk mengantisipasi Transisi Pekerja Hijau, memastikan stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan di tengah pergeseran tren energi global.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah mematangkan dua pendekatan strategis. Langkah ini diambil guna menghadapi dinamika transisi tenaga kerja menuju ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan. Kesiapan ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas ketenagakerjaan di tengah perubahan lanskap energi global.
Kepala Disnakertrans Kaltim, Rozani Erawadi, menjelaskan bahwa upaya ini merupakan respons terhadap potensi ancaman pengurangan tenaga kerja. Ancaman tersebut muncul akibat kebijakan bauran energi yang mengarah pada penggunaan sumber daya terbarukan. Pernyataan ini disampaikan Rozani di Samarinda pada hari Jumat (30/11).
Strategi utama yang diusung meliputi peningkatan keterampilan sesuai kebutuhan kerja energi hijau serta pelatihan alih keterampilan. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan para pekerja tetap relevan dan produktif di sektor-sektor baru. Seluruh langkah ini akan disinergikan dengan peta jalan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.
Strategi Peningkatan dan Alih Keterampilan Pekerja
Dua pendekatan utama Disnakertrans Kaltim berfokus pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Ini termasuk peningkatan keterampilan bagi pekerja yang sudah ada dan pelatihan alih keterampilan bagi mereka yang terdampak perubahan sektor. Tujuannya adalah untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten di bidang energi hijau.
Rozani menegaskan bahwa upaya pelatihan ulang kemampuan kerja ini akan dilakukan secara sinergis. Hal tersebut akan mengikuti peta jalan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi pekerja di Kaltim.
Transformasi tenaga kerja yang sebelumnya bergantung pada sektor pertambangan akan dilakukan secara bertahap. Fokus unit bisnis akan digeser ke energi baru terbarukan (EBT). Seluruh karyawan yang berada dalam masa transisi sektor usaha tersebut dipastikan menjalani program keterampilan ulang agar tetap produktif di bidang yang baru.
Proses pelatihan ulang bagi para pekerja ini nantinya dapat difasilitasi oleh Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) serta Balai Latihan Kerja Industri (BLKI). Fasilitas pelatihan tersebut tersebar di kota Balikpapan dan Bontang. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menyiapkan infrastruktur pendukung.
Kesiapan Infrastruktur dan Proyeksi Kebutuhan SDM
Meskipun perencanaan sudah matang, Rozani mengungkapkan adanya tantangan. Hingga saat ini, belum ada perusahaan di Kaltim yang menjadi proyek percontohan dalam melakukan keterampilan ulang maupun peningkatan keterampilan. Hal ini menjadi fokus perhatian pemerintah daerah untuk segera diatasi.
Pemerintah daerah terus berupaya menyiapkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang relevan. Selain itu, kelengkapan sarana dan prasarana instruktur khusus energi baru terbarukan juga menjadi prioritas. Persiapan ini dilakukan bersama dengan pemerintah pusat untuk memastikan kualitas pelatihan.
Selain persiapan infrastruktur pelatihan, Disnakertrans Kaltim juga telah merampungkan perhitungan terkait proyeksi kebutuhan tenaga kerja. Proyeksi ini diperlukan untuk mengisi sektor energi baru terbarukan di masa depan. Data ini akan menjadi panduan penting dalam perencanaan program pelatihan.
Rozani menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi Transisi Pekerja Hijau. "Kesiapan sumber daya manusia ini menjadi kunci penting bagi Kalimantan Timur dalam mempertahankan stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan di tengah pergeseran tren energi global," ungkap Rozani. Ini menunjukkan komitmen Kaltim terhadap masa depan ekonomi hijau.
Sumber: AntaraNews