Pemerintah Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Harga Pangan Nasional
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan dari produsen hingga konsumen, melindungi petani, dan mengendalikan inflasi, terutama pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), terus memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas harga pangan dari tingkat produsen hingga konsumen. Upaya ini mencakup perlindungan petani, jaminan pasokan, serta memastikan harga terjangkau bagi masyarakat luas, sekaligus bertujuan mengendalikan laju inflasi nasional.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi kondisi harga pangan yang relatif stabil pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut mendukung klaim stabilitas ini.
Intervensi ini akan terus dimaksimalkan, termasuk dalam menghadapi Hari Raya Idul Adha tahun ini, dengan visi jangka panjang swasembada pangan, protein, energi, dan etanol di seluruh pulau di Indonesia. Deflasi yang terjadi pada April 2026 akan diantisipasi pemerintah dengan memastikan harga di tingkat produsen tidak jatuh terlalu jauh, sementara harga di tingkat konsumen terus dijaga kewajarannya bagi masyarakat.
Strategi Pemerintah dalam Menjaga Keseimbangan Harga Pangan
Pemerintah secara konsisten menerapkan berbagai strategi untuk menjaga keseimbangan harga pangan di seluruh rantai pasok. Intervensi ini tidak hanya berfokus pada sisi konsumen, tetapi juga pada perlindungan produsen agar tidak merugi. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pangan yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak.
Meskipun terjadi deflasi pada April 2026, pemerintah tetap waspada dan berupaya mencegah penurunan harga yang terlalu drastis di tingkat produsen. Di sisi lain, kewajaran harga di tingkat konsumen menjadi prioritas untuk memastikan akses pangan yang merata. Keseimbangan ini krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha petani.
Visi jangka panjang pemerintah adalah mewujudkan swasembada pangan di setiap pulau di Indonesia, mencakup protein, energi, dan etanol. Amran Sulaiman menyatakan, “Mimpi kita adalah seluruh pulau Indonesia, itu swasembada pangan, protein, energi, dan etanol. Ini mimpi kita ke depan. Pertahanan negara yang baik, kalau kita berdaulat pangan di setiap pulau. Kenapa? Inflasi otomatis tidak terjadi.”
Intervensi Khusus pada Komoditas Unggas dan Jagung Pakan
Beberapa komoditas pangan strategis, seperti ayam pedaging hidup dan telur ayam ras, terpantau mengalami penurunan harga di tingkat produsen. Bapanas mencatat rata-rata harga ayam pedaging hidup telah berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen sebesar Rp25.000 per kilogram (kg), dengan rata-rata harga per 3 Mei mencapai Rp23.401 per kg. Harga telur ayam ras di produsen pun juga terus turun dalam sebulan terakhir, dengan rata-rata harga per 3 Mei berada di Rp24.890 per kg, di bawah HAP produsen Rp26.500 per kg.
Guna membantu menekan biaya produksi peternak, Bapanas bersama Perum Bulog telah memulai penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Langkah ini diambil untuk mengatasi fluktuasi harga jagung yang telah melebihi 16,81 persen dari Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat peternak/konsumen yang ditetapkan Rp5.800 per kg.
Program SPHP jagung pakan ini menargetkan lebih dari 5 ribu peternak skala mikro, kecil, dan menengah, dengan total populasi 53 juta ekor unggas di 26 provinsi. Untuk tahapan awal, diestimasikan sebanyak 213,1 ribu ton jagung pakan akan disalurkan.
Mengatasi Fluktuasi Harga Cabai dan Dampak Deflasi
Dalam upaya mengatasi deflasi cabai, Bapanas mendorong Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk menyalurkan stok cabai dari daerah surplus ke daerah yang mengalami fluktuasi harga. Hal ini penting mengingat beberapa wilayah, khususnya di Indonesia Timur, masih mencatatkan harga cabai yang tinggi.
Penyaluran FDP stok cabai dari daerah produsen seperti Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara dimungkinkan untuk menstabilkan harga di wilayah yang membutuhkan. Mekanisme ini diharapkan dapat mengurangi disparitas harga antar wilayah dan memastikan ketersediaan cabai yang merata.
Tren penurunan inflasi pada April 2026, termasuk pada komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan, menunjukkan mulai meredanya tekanan harga pangan pasca HBKN Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Ini merupakan indikator positif dari efektivitas intervensi pemerintah.
Data BPS Menunjukkan Penurunan Inflasi Pangan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah komoditas pangan strategis sebagai penyumbang utama deflasi April. Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Penurunan harga ini berkontribusi signifikan terhadap deflasi secara keseluruhan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan, “Tingkat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau umumnya lebih rendah pada periode yang bertepatan dengan momen pasca-Lebaran. Seiring juga adanya normalisasi permintaan pasca HBKN.”
Secara spesifik, daging ayam ras mengalami deflasi 6,20 persen di April dari inflasi 3,30 persen di Maret. Inflasi telur ayam ras turun menjadi deflasi 4,29 persen di April dari 2,34 persen di Maret. Sementara itu, cabai rawit dan cabai merah juga mengalami deflasi masing-masing 14,98 persen dan 2,59 persen.
Implikasinya, tingkat inflasi pangan, baik secara tahunan maupun bulanan, juga mengalami penurunan. Inflasi pangan secara tahunan menurun dari 4,24 persen di Maret menjadi 3,37 persen di April, angka yang masih terjaga di kisaran target pemerintah pada 3 hingga 5 persen. Sementara itu, inflasi pangan secara bulanan terjadi deflasi 0,88 persen, yang merupakan tren berulang sejak tahun 2024 dan menjadi yang cukup terdalam di April 2026.
Sumber: AntaraNews