Bapanas Jaga Stabilitas Harga Ayam Hidup Pasca Lebaran, Gandeng Pelaku Usaha Bibit dan Pakan
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengambil langkah strategis menjaga stabilitas harga ayam hidup usai Lebaran 2026, bersinergi dengan pelaku usaha bibit ayam dan pakan untuk melindungi peternak kecil dari pelemahan harga.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan akan menjaga stabilitas harga ayam hidup melalui intervensi multipihak. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng pelaku usaha bibit ayam (day old chick/DOC) serta pakan. Tujuannya adalah menahan pelemahan harga yang berpotensi terjadi usai Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengonfirmasi langkah ini di Jakarta pada Jumat. Ia menjelaskan bahwa sinergi dengan segenap pelaku usaha bibit ayam dan pakan sangat penting. Hal ini sebagai upaya agar peternak unggas tidak terdampak lebih jauh akibat implikasi fase pasca-Idul Fitri 2026.
Ketut mengungkapkan bahwa Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, telah memberikan arahan. Arahan tersebut adalah untuk segera memanggil pelaku usaha di sektor DOC maupun pakan, termasuk pemain skala besar, guna mengendalikan harga ayam hidup.
Intervensi Multipihak untuk Peternak Unggas
Pemerintah tidak ingin peternak kecil terganggu oleh penurunan harga ayam yang signifikan. Ketut menegaskan bahwa Bapanas akan terus bergerak karena fase setelah Lebaran memang seringkali diikuti oleh penurunan harga.
Sinergi dengan para pelaku usaha besar diharapkan mampu mewujudkan kembali harga produk unggas yang wajar. Kepastian penyerapan atau offtake menjadi hal penting yang harus dipastikan pemerintah.
Oleh karena itu, Bapanas akan menata dan mengumpulkan kembali para peternak serta pelaku usaha besar. Koordinasi ini bertujuan agar mereka dapat meng-offtake harga-harga yang ada di peternak, sehingga harga mulai wajar.
Fluktuasi Harga Ayam Hidup di Berbagai Daerah
Berdasarkan pantauan Bapanas, rata-rata harga ayam hidup di beberapa daerah menunjukkan fluktuasi. Tercatat ada harga yang berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen yang telah ditetapkan pemerintah.
HAP ayam hidup di tingkat produsen ditetapkan maksimal sebesar Rp25.000 per kilogram (kg). Sebagai contoh, harga di Sumatera Selatan terpantau Rp21.938 per kg, atau 12,25 persen di bawah HAP produsen.
Namun, di Sulawesi Selatan, harga ayam hidup masih cukup tinggi, mencapai Rp27.409 per kg atau 9,64 persen melampaui HAP. Secara nasional, rata-rata harga ayam hidup berada di kisaran Rp24.076 per kg, tipis 3,7 persen di bawah HAP produsen.
Daging Ayam Ras dan Inflasi Maret
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis inflasi bulan Maret melaporkan bahwa daging ayam ras menjadi komoditas komponen harga bergejolak. Komoditas ini memiliki andil tertinggi, baik pada inflasi bulanan maupun tahunan.
Sampai pekan terakhir Maret, Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras tercatat cukup signifikan. Sebanyak 237 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga.
Meski demikian, pergerakan kenaikan IPH daging ayam ras mulai mereda pada awal April. Jumlah daerah dengan kenaikan IPH menurun menjadi 148 kabupaten/kota, sementara daerah dengan penurunan IPH meningkat menjadi 125 kabupaten/kota.
Keseimbangan Harga dari Hulu ke Hilir
Pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan harga mulai dari hulu hingga hilir. Prinsip kewajaran harga untuk setiap lini rantai pasok sangat penting untuk diimplementasikan secara berimbang.
Ketut menyatakan bahwa jika harga di hulu menurun, diharapkan harga di hilir juga ikut turun. Hal ini untuk menghindari situasi di mana harga hulu turun tetapi harga hilir tetap tinggi, yang akan merugikan peternak.
Program SPHP Jagung Pakan dan Solusi Jangka Panjang
Selain intervensi harga, pemerintah juga telah menyiapkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Program ini bertujuan menekan biaya pokok produksi para peternak.
Untuk program SPHP jagung pakan tahun 2026, anggaran yang disiapkan pemerintah mencapai Rp678 miliar. Total alokasi salur mencapai 242 ribu ton untuk membantu peternak unggas dan non-unggas memperoleh jagung pakan berkualitas dengan harga lebih terjangkau.
Terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan solusi jangka pendek hingga jangka panjang. Solusi permanen adalah membangun pabrik pakan dan DOC milik pemerintah.
Sumber: AntaraNews