Keseimbangan Harga Telur: Bapanas Pastikan Stabilitas Hulu-Hilir
Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkomitmen menjaga keseimbangan harga telur ayam ras dari hulu hingga hilir, melindungi peternak sekaligus memastikan keterjangkauan bagi masyarakat, di tengah tren deflasi harga telur.
Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), secara aktif memastikan terjaganya keseimbangan harga telur ayam ras di tingkat produsen dan konsumen. Langkah strategis ini diambil untuk melindungi keberlangsungan usaha peternak sekaligus menjamin keterjangkauan komoditas penting ini bagi seluruh lapisan masyarakat. Komitmen ini menjadi prioritas di tengah dinamika pasar pangan nasional.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas harga pangan pokok strategis terus dilakukan pemerintah agar kepentingan produsen dan konsumen dapat berjalan selaras. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pangan yang adil dan berkelanjutan. Telur ayam ras menjadi salah satu komoditas yang kini mendapat perhatian khusus.
Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu (7/6), menyusul tren deflasi harga telur ayam ras yang kembali tercatat pada Mei 2026. Kondisi ini menimbulkan tekanan bagi peternak akibat melemahnya harga jual di tingkat hulu. Oleh karena itu, pemerintah berupaya keras untuk menyeimbangkan kembali kondisi pasar.
Tren Deflasi dan Tantangan Peternak
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa deflasi harga telur ayam ras tercatat sebesar 4,29 persen pada April, kemudian meningkat menjadi 5,14 persen pada Mei 2026. Tren penurunan ini, meskipun menguntungkan konsumen di hilir, justru menciptakan tantangan serius bagi para peternak di hulu. Harga jual yang rendah dapat mengancam keberlanjutan usaha mereka.
Bapanas memandang bahwa kondisi ini memerlukan respons cepat dan tepat guna menjaga kelangsungan usaha peternakan rakyat. Berbagai upaya terus didorong, termasuk penguatan serapan hasil produksi melalui program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan peningkatan konsumsi masyarakat. Ini adalah langkah konkret untuk menopang harga di tingkat produsen.
"Sekarang telur turun. Nah, ini kami harus mengangkat lagi ini. Tugas kami harus mengangkat agar harga telur ayam di tingkat produsen bisa naik, tapi tetap harus kita jaga di hilirnya. Jangan sampai melebihi harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut. Pernyataan ini menegaskan fokus pemerintah untuk menemukan titik keseimbangan yang adil bagi semua pihak. Pemerintah ingin menciptakan harga yang wajar dan berkeadilan bagi seluruh pelaku dalam rantai pasok.
Upaya Pemerintah Menjaga Keseimbangan Harga
Sebagai negara produsen unggas yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memastikan peternak memperoleh harga yang layak. Hal ini krusial agar mereka tetap bersemangat dalam berproduksi dan menjaga pasokan pangan nasional. Pemerintah hadir untuk mengendalikan harga dan pasokan saat kondisi pasar bergerak dinamis.
Data pemantauan Bapanas menunjukkan fluktuasi harga telur ayam ras yang signifikan. Pada Maret, rata-rata harga mencapai Rp27.236 per kilogram (kg), namun kemudian mengalami tren penurunan. Harga turun menjadi Rp25.719 per kg pada April, lalu Rp24.688 per kg pada Mei, dan kembali merosot menjadi Rp24.424 per kg pada awal Juni 2026. Penurunan berturut-turut ini mengindikasikan perlunya intervensi pasar.
Pemerintah menilai kondisi ini memerlukan langkah penataan komprehensif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi peternak, hingga koperasi, semuanya harus bersinergi. "Yang di tengah harus kita atur, harus kita tata. Ini artinya, pemerintah turun di dua sisi. Stabilkan di hilir. Stabilkan di hulu. Tatkala telur terlalu rendah di hulu, sesuaikan, wajarkan harga. Negara ini swasembada. Petani harus nyaman, peternak harus nyaman berproduksi," tutur Ketut. Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak khawatir terhadap ketersediaan pasokan pangan.
Optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan pemerintah untuk mengatasi fluktuasi harga telur adalah optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diharapkan dapat menjadi penyerap utama hasil produksi telur peternak, terutama di sentra produksi seperti Jawa Timur. Dengan demikian, kelebihan pasokan di hulu dapat terserap secara efektif.
Bapanas telah berkoordinasi dengan pihak terkait dalam rangka meningkatkan konsumsi telur pada program MBG. Program ini berpotensi menjadi penyerap utama hasil produksi petani dan peternak karena menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat. Skala program yang besar ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi harga di tingkat produsen.
Peningkatan konsumsi telur melalui program MBG tidak hanya membantu menjaga harga di tingkat peternak, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat. Ini adalah solusi win-win yang mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat. Pemerintah memastikan pemantauan harga dan stok terus dilakukan secara intensif untuk menjaga stabilitas pasokan.
Sumber: AntaraNews